Minggu, 15 Mei 2011

sejarah singkat Perang Diponegoro

Setelah kekalahannya dalam peperangan di Eropa, Pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas ekonomi mereka.Yaitu dengan memberlakukan pajak-pajak kepada daerah jajahannya termasuk indonesia ( hindia belanda ) belanda juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Dan monopoli tersebut amat memberatkan masyarakat Indonesia yang pada saat itu juga sudah sangat menderita
Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya yang kosong, Belanda mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan di Nusantara terutama di Jawa, salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat menjadi penguasa. Akan tetapi pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda.belanda dianggap memilih orang yang tidak sesuai dengan adat keraton.
Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah belanda yang memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Rupanya, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro. Hal ini membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk angkat senjata melawan Belanda. Ia memerintahkan untuk mencabut patok-patok yang melewati makam leluhurnya tersebut kepada bawahannya.
Karena pangeran diponegoro dianggap telah memberontak maka belanda punya alasan untuk menangkap pangeran diponegoro.Pada 20 Juli 1825 serdadu belanda mengepung kediaman pengeran diponegoro. Karena terjepit, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri. Sementara, Belanda yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro membakar habis kediaman Pangeran.
Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu dalam semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.
Pertempuran terjadi begitu sengit apabila suatu wilayah pada siang hari dikuasai belanda maka malam harinya dikuasai pasukan diponegoro.
Para ahli sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha untuk gencatan senjata dan berunding, ini hanya sebuah taktik licik belanda.karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan musuh yang tak tampak melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka untuk menghasut, memecahkan dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu hal yang belum pernah terjadi ketika suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Begitu seiusnya pihak belanda menghadapi serangan diponegoro.Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Akhirnya , Pangeran Diponegoro bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota pasukannya dilepaskan. lalu, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar