o.k
cerita ini berawal diwaktu gw sama temen-temen gue pengen ngenet. hmmm, perkenalan dulu deh ( * mau gak mau gw tetep harus nulis ini, terserah deh lo, mau baca ato kagak)
Nah, gue anak baru dikota tempat gue tinggal sekarang, Nah temen-temen gue nyuekin gue waktu dijalan pergi kewarnet. Karena ceritanya gw bareng temen-temen gw "pergi bareng "
nah lo gue dicuekin , gimana enggak keki coba."
Alhasil gue sok-sokan jalan duluan diantara mereka. Nah sampailah kami ditempat yang dituju.
Temn-temen gw pada bilang
" eh, lu masuk duluan gih, tanyain ada gak yang kosong buat kita"
Saking keselnya , gue masuk " mbak, ada yang kosong gak"
nah, si mbaknya bingung " maksudnya apa"
"ada gak yang kosong buat 4 orang"
" ada noh banyak "
ih, cuek banget si mbak warnet, mana enggak pake ngeliat gue.
akhirnya gue ngenet sambil kesel-keselan apalagi jaringannya jelek.
Waktu bayar, ganti orang jadi mas-mas, idih ganjen banget pake senyum-senyum lagi
Dia bilang " besok kalo kesini, yang jaga saya ya dek, tadi itu juga pelanggan "
:)
Kamis, 09 Februari 2012
Selasa, 07 Februari 2012
Tugas Seni Budaya Kelas IX IPA 1 T.A 201/2012
A. Pengertian Seni Tari
Seni tari merupakan karya cipta manusia yang indah. Seni tari dikatakan indah apabila rangkain dan bagian-bagiannya/elemen-elemen penunjang tari menjadi suatu susunan yang lengkap dan utuh sehingga mampu menumbuhkan kenikmatan bagi pemirsa.
Dalam buku Problem Of Art dikatakan bahwa tari adalah sejarah yang diciptakan secara ekspensif dan diciptakan manusia untuk dinikmati dengan rasa. Contoh : Gerak, busana/kostum, iringan music , proerti dan pola lantai.
B. Jenis-Jenis Tari
Hal ini lazim dikenal dengan istilah koreografi. Seorang koreografer( peƱata tari/pencipta tari) harus mengetahui, memahami, dan mempraktikkan pengetahuan komposisi tari.
Ditinjau dari gerakannya, seni tari dibagi kepada dua hal :
1. Tari repsentasionla, yaitu tari yang menggambarkan sesuatu secara jelas.
Contoh : Trai Bonang ( jawa tengah).
2. Tari Non representasional, yaitu tari yang tidka menggambarkan sesuatu ( abstrak).
Contoh : tari pendet ( bali ).
C. Tokoh Tari.
Penata Tari bagi Nurani Manusia
Seniman penata tari dan penari berambut sebahu, lulusan SMA Negeri 4 Surabaya, Sardono Waluyo Kusumo dikukuhkan menjadi Guru Besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 14 Januari 2004. Ia seniman pertama dari Asia yang mendapat penghargaan ISPA. Sepanjang karirnya dia telah menghasilkan tak kurang 25 tarian. Sejak usia 23 tahun ia tak pernah berhenti menciptakan karya tari bukan untuk jual beli, tetapi mencari arti bagi nurani manusia. Ia penata tari Indonesia berkaliber internasional.
Pagelaran tari “Nobody’s body” yang merupakan karya teranyarnya tahun 2000 serta peluncuran buku berjudul “Hanuman, Tarzan, dan Homo Erectus” turut menyemarakkan pengukuhan sang profesor yang seluruh hidupnya diabdikan hanya untuk seni tari.
Buku berisi kumpulan tulisan Sardono tentang tari agaknya menjadi salah satu alasan pelengkap penganugerahan jabatan pengajar tertinggi di lingkungan akademis itu. Mengingat, “sang prof” Mas Don –begitu pria kelahiran Surakarta 6 Maret 1945 ini biasa dipanggil— bukanlah jebolan sarjana setingkat S-1. Maklum, kuliah ayah satu anak ini, di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada maupun Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tidak sampai selesai. Kendati demikian gelar itu dijamin tidak palsu sebab sudah ditandatangani langsung oleh Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar pada 31 Mei 2003 lalu berdasarkan SK Bersama Menteri Pendidikan Nasional nomor 9601/A2.7/KP/2003.
Penghargaan seni tari yang pernah diterima Mas Don bukan hanya dari dalam negeri. Mas Don menerima Distinguished Artist Award dari International Society for the Perfoming Arts Foundation (ISPA), pada saat Masyarakat Seni Pertunjukan Internasional menyelenggarakan kongres di Singapura pada 20 Juni 2003 lalu.
ISPA memberi penghargaan untuk dedikasi Mas Don bagi dunia seni pertunjukan, terutama untuk kawasan Asia. Penghargaan sejenis pernah ISPA berikan ke beberapa seniman kaliber dunia seperti Martha Graham, Jerome Robbins, Mikhail Barysnikov, dan Sir Yehudi Menuhin. Dan, Sardono menjadi seniman pertama dari Asia yang mendapat penghargaan ISPA bersama dengan seniman asal Singapura, Ong Keng Sen.
Masyarakat Seni Pertunjukan Internasional atau International Society of Performing Arts (ISPA) yang berpusat di New York, AS dan didirikan tahun 1949, itu adalah sebuah forum terhormat dunia yang bertujuan mempromosikan nilai dan peran penting seni pertunjukan di dalam kehidupan. Organisasi ini beranggotakan sekitar 600 pengelola gedung pertunjukan, pusat kesenian, festival, kelompok seni pertunjukan, dan lembaga kesenian/kebudayaan pemerintah.
Lembaga ISPA ini juga mengenal Mas Don sebagai sosok yang mengangkat kebudayaan Jawa ke dunia internasional, namun uniknya, di sisi lain dia juga sering melawan tradisi Jawa. Dr Kwok Kian Woon, Kepala Practice Performing Arts Centre pada ISPA, menyebutkan banyak seniman Asia yang bagus tetapi Sardono bisa dikatakan sebagai seniman terkemuka yang memberi pengaruh pada perkembangan kesenian tradisional dan modern. Dia memberi warna lain dalam pertunjukan kontemporer, terutama untuk negara-negara Asia Tenggara.
Sementara dari Pemerintah negeri Belanda pada 1998, Mas Don menerima penghargaan berupa Prince Claus Award. Pemerintah Belanda melihat keseriusan Mas Don dalam melakukan riset di bidang seni dan budaya. Pengakuan lain dari dalam negeri dari Pemerintah RI terhadap Mas Don adalah penganugerahan penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah Republik Indonesia tahun 2003.
Gelar profesor menjadi bukti tingginya pengakuan semua pihak terhadap hidup berkesenian Mas Don, yang sejak usia 23 sudah menghasilkan tari berjudul Samgita Pancasona yang waktu itu sudah dipentaskan di Jogjakarta, Solo, Jakarta. Tak lama setelah pementasan itu, dengan membawa nama misi kebudayaan ke luar negeri pada tahun 1971 Mas Don dengan bangga mementaskan tari Cak Tarian Rina di Iran dan Jepang.
Sepanjang karirnya dia telah menghasilkan tak kurang 25 tarian. Diantaranya adalah Dongeng dari Dirah, Hutan Plastik, Hutan Merintih, Passage Through the Gong, Opera Diponegoro, Cak Tarian Rina, Awal Metamorfosis, dan Samgita Pancasona. Semua karyanya punya keunikan tersendiri sebab pasti berhubungan dengan kondisi suatu mayarakat pada kurun waktu tertentu yang “dipotretnya” menjadi karya tari.
Dongeng dari Dirah adalah salah satu karya spektakuler Mas Don. Karya ini sempat dibawakan di Prancis, pada tahun 1974 dan mendapat banyak pujian dari kalangan seni tari. Dengan tarian ini pula dia dikritisi sejajar dengan dua maestro seni pertunjukan dunia, yaitu Maurice Bejart dan Robert Wilson. Padahal, usia Mas Don saat berkeliling dunia mementaskan pertunjukan itu baru 29 tahun. Dongeng dari Dirah yang menorehkan nama Mas Don ke dunia seni tari internasional, itu diangkat dari kisah klasik asal Bali, Calon Arang.
Apresiasi dunia luar terhadap Mas Don memang tinggi. Saat melakukan perjalanan karir keliling ke Amerika Serikat tahun 1993, adalah salah satu saat perjalanan karir lainnya yang berkesan. Pentas penampilan berjudul Passage Through the Gong ketika itu disambut hangat publik seni Negara Paman Sam. Road show tersebut digelar di Next Wave Festival Broklyn Academy of Music New York, San Francisco, Los Angeles, dan Burlington. Begitu antusiasnya sambutan warga New York, Mas Don melakukan pergelaran dua kali di ibu kota dunia itu. Dan di tahun yang sama, pentas kedua digelar di BAM Carey Playhouse, New York.
Keuletan Mas Don dalam menciptakan sebuah karya tari tak pernah berhenti. Dia terus menunjukkan kreativitas-kreativitas baru, biasanya setelah sekian lama mendalami kehidupan masyarakat yang ingin “dipotretnya” menjadi tarian. Dia mau masuk ke dalam kehidupan masyarakat tertentu. Seperti, untuk membuat kreasi tari dengan latar belakang masyarakat Dayak, Mas Don harus homestay di tengah hutan belantara Kalimantan bersama komunitas Dayak. Begitu juga saat dia terinspirasi suku Nias di Sumatera Utara.
Pargelaran pertunjukan berjudul Meta Ekologi yang mengetengahkan kepeduliannya terhadap lingkungan, di tahun 1975, terinspirasi setelah dia mendalami kehidupan Dayak dan Nias. Karya Mas Don lain tentang lingkungan adalah Hutan Plastik di tahun 1983 dan Hutan Merintah tahun 1987. Mas Don juga menghasilkan lakon Maha Buta pertanda dia tidak melupakan kehidupan spiritual yang diberikan Sang Khalik.
Di usia paruh bayanya, sejak tiga tahun terakhir Mas Don mulai berperan sebagai guru bagi siapa saja. Baginya, menjadi guru justru “menambah ilmu”, mendapatkan hal baru sebab pengalaman mengajar itu berbeda dengan menari.
Ayah dari Nugrahani, anak buah perkawinanya dengan Amna W.Kusumo ini tidak hanya menggeluti seni koreografi dengan menghasilkan karya-karya koreografi, tapi juga terjun sebagai pengader koreografer-koreografer muda. Hal itu dilakukannya dengan cara terjun sebagai seorang pengajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Solo, dan di Institut Kesenian Jakarta.
Dan jika bicara tentang mengajar maka pria berambut sebahu ini pasti akan bersemangat, terutama tentang perannya sebagai guru. Misalnya, Sardono mewajibkan setiap muridnya mempresentasikan karya akhirnya di tempat asal si murid. Dengan begitu Sardono bisa melihat bagaimana si murid “melihat” komunitas asal si murid itu sendiri, misalnya, setelah dua tahun belajar kesenian. Si seniman tak harus terputus interaksinya dengan masyarakatnya sendiri.
“Saya hanya berusaha memperkaya mereka dengan apa yang sebenarnya saya dapatkan, juga dari murid yang lain. Misalnya, saya membawa pengetahuan dari murid di Australia ketika mengajar di Solo, atau sebaliknya, setelah melihat presentasi murid di Padang, saya membawanya ketika mengajar di Singapura,” tuturnya. Ia memang sangat terlibat dengan pasang surut lingkungan masyarakatnya.
Belakangan ini Sardono tak lagi menghabiskan banyak waktunya di Indonesia, tapi sudah lintas negara Asia Tenggara. Dia mengaku masih pergi ke Padang, Bandung, atau Jakarta, di mana muridnya menggelar presentasi. Selain itu, ia juga pergi ke Hanoi, Kamboja, Singapura, dan lainnya. Lingkup penggaliannya tak lagi terbatas pada tradisi di Indonesia, tetapi mencakup Asia, terutama Asia Tenggara.
Staf pengajar IKJ ini sejak awal sudah mencoba berusaha memajukan kesenian di Indonesia dengan ikut terlibat mendirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, yang merupakan cikal bakal Institut Kesenian Jakarta, pada 1970. Sekolah seni yang didirikannya dimaksudkannya untuk mendidik para seniman supaya menjadi orang besar. Dia lalu menggalakkan berbagai workshop dengan seniman tari dari luar negeri. Misalnya dengan Peter Brooks di Ecole Superieure de Choreographie di Prancis. Lantas, melakukan workshop di Denmark bersama dengan Odin Teatret dan Theatre du Soleil Prancis.
Dalam setiap mengajar Mas Don berusaha untuk tampil sekomprehensif mungkin, misalnya dengan menyisipkan elemen-elemen seni lain seperti senirupa, film, dan musik. Mas Don yang juga staf pengajar Program Pasca Sarjana STSI Solo ini beralasan, semua unsur seni itu saling terkait. Mendalami seni tari harus pula bisa melakukan seni peran di atas panggung, harus bisa melihat visualisasi dari sisi penonton dan bukan hanya dirinya sendiri.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Sep 27
Sanusi Pane (1905-1968)
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Sastrawan Pujangga Baru
Sanusi Pane, sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Pria kelahiran Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905, ini juga berprofesi sebagai guru dan redaktur majalah dan surat kabar. Ia juga aktif dalam dunia pergerakan politik, seorang nasionalis yang ikut menggagas berdirinya “Jong Bataks Bond.” Karya-karyanya banyak diterbitkan pada 1920 -1940-an. Meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968.
Bakat seni mengalir dari ayahnya Sutan Pengurabaan Pane, seorang guru dan seniman Batak Mandailing di Muara Sipongi, Mandailing Natal. Mereka delapan bersaudara, dan semuanya terdidik dengan baik oleh orang tuanya. Di antara saudaranya yang juga menjadi tokoh nasional,adalah Armijn Pane (sastrawan), dan Lafran Pane salah (seorang pendiri organisasi pemuda Himpunan Mahasiswa Islam).
Sanusi Pane menempuh pendidikan formal HIS dan ElS di Padang Sidempuan, Tanjungbalai, dan Sibolga, Sumatera Utara. Lalu melanjut ke MULO di Padang dan Jakarta, tamat 1922. Kemudian tamat dari Kweekschool (Sekolah Guru) Gunung Sahari, Jakarta, tahun 1925. Setelah tamat, ia diminta mengajar di sekolah itu juga sebelum dipindahkan ke Lembang dan jadi HIK. Setelah itu, ia mendapat kesempatan melanjut kuliah Othnologi di Rechtshogeschool.
Setelah itu, pada 1929-1930, ia mengunjungi India. Kunjungan ke India ini sangat mewarnai pandangan kesusasteraannya. Sepulang dari India, selain aktif sebagai guru, ia juga aktif jadi redaksi majalah TIMBUL (berbahasa Belanda, lalu punya lampiran bahasa Indonesia). Ia banyak menulis karangan-karangan kesusastraan, filsafat dan politik.
Selain itu, ia juga aktif dalam dunia politik. Ikut menggagas dan aktif di “Jong Bataks Bond.” Kemudian menjadi anggota PNI. Akibat keanggotannya di PNI, ia dipecat sebagai guru pada 1934. Namun sastrawan nasionalis ini tak patah arang. Ia malah menjadi pemimpin sekolah-sekolah Perguruan Rakyat di Bandung dan menjadi guru pada sekolah menengah Perguruan Rakyat di Jakarta. Kemudian tahun 1936, ia menjadi pemimpin surat kabar Tionghoa-Melayu KEBANGUNAN di Jakarta. Lalu tahun 1941, menjadi redaktur Balai Pustaka.
Sanusi Pane sastrawan pujangga baru yang fenomenal. Dalam banyak hal berbeda (antipode) dari Sutan Takdir Alisjahbana. Jika STA menghendaki coretan yang hitam dan tebal dibawah pra-Indonesia, yang dianggapnya telah menyebabkan bangsa Indonesia telah menjadi nista, Sanusi malah berpandangan sebaliknya, mencari ke jaman Indonesia purba dan ke arah nirwana kebudayaan Hindu-Budha. Sanusi mencari inspirasi pada kejayaan budaya Hindu-Budha di Indonesia pada masa lampau. Perkembangan filsafat hidupnya sampai pada sintesa Timur dan Barat, persatuan rohani dan jasmani, akhirat dan dunia, idealisme dan materialisme. Puncak periode ini ialah dramanya Manusia Baru yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1940.
Karya-karyanya yang terkenal diantaranya: Pancaran Cinta dan Prosa Berirama (1926), Puspa Mega dan Kumpulan Sajak (1927), Airlangga, drama dalam bahasa Belanda, (1928), Eenzame Caroedalueht, drama dalam bahasa Belanda (1929), Madah Kelana dan kumpulan sajak yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (1931), naskah drama Kertajaya (1932), naskah drama Sandhyakala Ning Majapahit (1933), naskah drama Manusia Baru yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (1940). Selain itu, ia juga menerjemahkan dari bahasa Jawa kuno kekawin Mpu Kanwa dan Arjuna Wiwaha yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (1940).
Jiwa nasionalismenya terlihat antara lain dari pernyataan Sanusi Pane tentang akan dibentuknya perhimpunan pemuda-pemuda Batak yang kemudian disepakati bernama “Jong Bataks Bond.” Ia menyatakan: “Tiada satu pun di antara kedua pihak berhak mencaci maki pihak lainnya oleh karena dengan demikian berarti bahwa kita menghormati jiwa suatu bangsa yang sedang menunjukkan sikapnya.” (Dikutip dari Nationalisme, Jong Batak, Januari, 1926).
Dalam naskah itu, Sanusi Pane menyampaikan gagasannya bahwa perhimpunan bagi pemuda-pemuda Batak bukan berarti upaya pembongkaran terhadap de Jong Sumateranen Bond (JSB). Tetapi sebaliknya, menumbuhkan persaudaraan dan persatuan orang-orang Sumatera. Karena itu, Sanusi Pane mengingatkan agar tak ada caci maki antara kedua belah pihak. Semua harus saling menghargai dan menghormati sebagai sesama bangsa, lebih-lebih sebagai sesama Sumatera.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Sep 27
AWK Samosir
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia 1 Comment »
Totalitas Buat Gondang dan Opera Batak
Hampir seluruh hidupnya untuk gondang, uning-uningan, tortor dan opera Batak. Ia murid langsung almarhum Tilhang Oberlin Gultom itu (pendiri opera Batak akhir tahun 1920-an). Ia amat gelisah atas perkembangan kesenian Batak dewasa ini. Sebab, menurutnya, semua orang Batak sudah menyeleweng dari budayanya. Lihat pesta-pesta perkawinan, band lebih selalu ditanggap ketimbang gondang termasuk saat mangulosi, menyampirkan ulos kepada pengantin dan kerabatnya.
Menuju rumahnya di belahan timur Jakarta selepas tol, jalan aspal menanjak dan sempit. Hanya bilangan kilometer dari Taman Mini. Di sisi jalan menganga sebuah gang semak dan tanah coklat. Seorang perempuan muda cantik sedang menanti. Ia memandu kami.
Tak sampai tiga menit, tersua hamparan tanah merah 200-an meter persegi. Kering dan keras sebab matahari sedang terik. Tak satu belukar tumbuh. Hanya rumah petak berpintu lima yang kelihatan di seberang. Lantainya satu kaki di bawah permukaan tanah merah itu. Bila hujan turun, gumpalan lumpur mesti melekat di kasut mengonggok di lantai rumah bilik itu.
Sesosok laki-laki dengan seluruh rambut memutih berdiri di mulut pintu salah satu petak. Di tahun 1970 hingga 1980-an, wajah itu kerap terlihat di TVRI. Jarinya memetik kecapi di tengah gondang atau uning-uningan Toba. Tahunan ia menata dan mengisi tayangan tortor dan opera Batak di situ. Di tahun 1990-an sesekali ia mengiringi nyanyian dan tari Batak, bersama regu band Tarida Pandjaitan br Hutauruk, dalam program Horas di televisi swasta. Ia mudah dikenali dalam sorotan kamera, sebab pada usia tujuh puluhan, rambut putihnya selalu terkucir.
Read the rest of this entry »
Sep 27
Rustandi Kartakusuma (1921-2008)
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia 1 Comment »
Sastrawan Angkatan 45
Budayawan dan sastrawan angkatan 45, Mh Rustandi Kartakusuma, yang akrab dipanggil Uyus, meninggal dunia dalam usia 87 tahun, Jumat 11 April 2008 pukul 06.15 WIB di Panti Jompo Ria Pembangunan, Cibubur. Pria kelahiran Ciamis, Jawa Barat, 20 Juli 1921, itu tidak menikah sampai akhir hayatnya. Pada masa mudanya, dia dikenal sebagai sastrawan yang produktif. Dimakamkan Jumat siang 11/4 di Tempat Pemakaman Umum Pondok Rangon, Cibubur.
Uyus pernah mengajar di Yale University dan Harvard University, Amerika Serikat. Juga pernah memberikan kuliah di Massachusetts Institute of Technology atas undangan Stichting voor Culturele Samenwerking. Sempat setahun tinggal di Belanda dan belajar musik di Muzieklyceum, Amsterdam.
Pada masa tuanya, sejak 13 November 1996, Uyus tinggal di Panti Jompo setelah sebelumnya menumpang di rumah kakaknya di Kebon Sayur, Jakarta. Tahun 2004 Presiden Megawati Soekarnoputri ia menganugerahkan penghargaan Satya Lencana Kebudayaan atas jasanya mengembangkan kesusastraan dan kebudayaan Sunda. Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi juga menganugerahkan penghargaan Sastra Rancage atas kumpulan cerpennya.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com/
Sep 27
Rusli
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Si Pelukis Avant Garde
Rusli, pelukis senior yang sejajar dan seangkatan dengan pelukis Affandi, Sudjojono dan Hendra Gunawan. Dia dikenal sebagai tokoh pembaharu seni lukis Indonesia. Di samping juga konsistensinya untuk mempertahankan prinsip-prinsip dalam berkesenian, yakni kesederhanaan, baik dalam lukisan maupun dirinya.
Bagi Rusli, melukis bukan sekadar sebuah profesi, melainkan lebih tepat sebagai panggilan hidup dan pengabdian. Sebagai pelukis, Rusli memunyai karakter yang khas dalam karya-karyanya. Meski lukisan-lukisannya tampak sederhana, baik dalam garis, bidang, maupun warna, selalu tampak menarik.
Lukisan-lukisannya yang selalu berlatar putih adalah pengejawantahan dari sebuah kosmos. Bisa dilihat dari sapuan warna-warna tropisnya yang terbentuk dari bermacam garis sekali jadi. Sebagai bentuk pemahaman yang sangat kental darinya pada alam dan kehidupan. Karena bahasa garis itu pula, banyak orang yang tak gampang mencerna dan memahami lukisannya. Sehingga, seorang temannya, Umar Kayam, menyebut Rusli sebagai pelukis Avant Garde. Sebutan yang telah memopulerkan karya-karya Rusli.
Read the rest of this entry »
Sep 27
Roedjito (1932-2003)
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Tokoh Seni di Balik Layar
Sia seorang tokoh terkemuka dalam jagat seni pertunjukan Indonesia. Seorang skenografer pertunjukan yang berperan besar di balik layar. Roedjito, dipanggil Mas Djito, seniman kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, 21 Juni 1932 meninggal dunia di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta, Jumat, 26 September 2003, pukul 00.20 WIB. Seniman berpenampilan bersahaja tetapi selalu memancarkan pikiran besar.
Kesederhanaan itulah prinsip Mbah Djito dalam mengarungi samudera hidupnya. Tercermin nyata dari kondisi rumah yang dihuni, hanya seluas 2,5×3,5 meter persegi. Tapi dalam rumah kecil itu, bertumpuk tujuh ribuan buku dalam berbagai bahasa. Dia skenografer pertunjukan terkemuka, yang memilih hidup sederhana. Baginya, uang bukan segala-galanya. Ada atau tidak ada uang, dia selalu mengerjakan sesuatu dengan kesungguhan yang sama.
Mbah Djito mengawali kipranya dalam latar kesenian, saat masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketika itu, ia bertemu dengan beberapa seniman, seperti sastrawan Asrul Sani, dan sutradara film Usmar Ismail dan pelukis Oesman Effendi. Bergaul denga para seniman itu, membulatkan tekadnya meninggalkan bangku kuliah.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Sep 27
Ridwan Saidi
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Politisi dan Budayawan Betawi
Ridwan Saidi, pria kelahiran Jakarta, 2 Juli 1942, ini seorang politisi dan budaywan Betawi. Lulusan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia ini mantan Ketua Umum PB HMI, 1974-1976 dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) periode 1977-1987.
Saat menjadi anggota DPR, mantan Ketua KNPI (1973-1978), ini hanya memiliki sebuah skuter Bajaj. Namun, ia lebih senang naik bis dan hidup hanya dari gajinya.
Semasa mahasiswa, pernah dua setengah tahun berhenti kuliah. Hanya memiliki celana dua potong, yang satunya malah sobek. Sebelum menyelesaikan pendidikan di FISIP UI, ia pernas studi di Fakultas Publistik, Universitas Padjadjaran 1962-1963namun tidak selesai. Semasa mahasiswa aktif sebagai Kepala Staf Batalion Soeprapto Resimen Mahasiswa Arief Rahman Hakim (1966), Sekretaris Jendral Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (1973-1975) dan Ketua Umum PB HMI (1974-1976).
Kemudian, ia menjadi Anggota DPR Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, 1977-1982 dan 1982-1987 serta menjadi Wakil Ketua Komisi APBN, 1977-1982 dan Wakil Ketua Komisi X, 1982-1987. Lalu, ia menjadi Ketua Umum Partai Masyumi Baru, 1995-2003.
Budayawan Betawi yang pernah belajar melukis dari bekas teman SMP-nya, Sutradara Ali Shahab ini menjadi Ketua Steering Comittee Kongres Kebudayaan, 2003. Di samping itu aktif sebagai Direktur Eksekutif Indonesia Democracy Watch dan Ketua Komite Waspada Komunisme.
Suami dari Yahma Wisnani ini juga seorang penulis produktif. Selain menulis di berbagai media massa, ia telah menerbitakn beberapa karyanya, antara lain: Golkar Pascapemilu 1992, 1993; Anak Betawi Diburu Intel Yahudi, 1996; Profil Orang Betawi: Asal muasal, kebudayaan, dan adat istiadatnya, 1997; Status Piagam Jakarta: Tinjauan hukum dan sejarah, 2007.
Kegiatan lain yang pernah dilakukan dan diikuti penggemar musik dan sastra ini antara lain: White House Conference on Youth, Colorado, Amerika Serikat, 1971; Australia-Indonesia Dialogue, Canberra, Australia, 1981; International Parliament Union Conference, Manila, Filipina, 1982; ASEAN Parliament Conference, Singapura, 1983; Muktamar Rakyat Islam se-Dunia, Irak, 1993; Babylonian Cultural Festival, Irak, 1994.
Dari sumber Pusat Data dan Analisa Tempo bahwa yang merancang dan membuat lambang baru Partai Persatuan Pembangunan (PPP) — berbentuk bintang sudut lima — ternyata Ridwan Saidi. Menurut Ridwan, mantan Ketua Departemen Organisasi & Pemilu DPP PPP, ini proses pembuatannya hanya satu hari. Tetapi proses pengendapannya yang lama.
Ridwan berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya dulu pegawai negeri yang hidup pas- pasan. Masa prasekolah dilaluinya di madrasah, yang para ustadnya diberi wewenang menghukum anak didik yang nakal.
Ia penggemar seni, terutama sastra dan musik. ”Saya senang jazz. Pertunjukan Tjok Sinsu sapai Jack Lesmana selalu saya tonton,” ujarnya. Dari Wisnani, istrinya, yang asal Minang, Ridwan kini ayah sejumlah anak. Wisnani dulu juga aktivis HMI, lulusan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam UI.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Sep 27
Retno Maruti
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Maestro Tari Jawa Klasik
Retno Maruti, seniman yang memiliki daya cipta tinggi. Dia maestro tari Jawa klasik. Penari dan kreografer ini sangat kreatif mengembangkan tari Jawa klasik yang dianggap ‘kuno’ menjadi memukau selera penonton ‘modern’ dalam beberapa pagelaran monumental. Selain mampu menampilkan seni tradisi dengan suatu kedalaman rasa secara kreatif, Retno juga berhasil melahirkan seniman dan penari klasik muda.
Perempuan bernama lengkap Theodora Retno Maruti, kelahiran Solo, 8 Maret 1947, ini bersama suaminya yang juga penari, Arcadilus Sentot Sudiharto, mendirikan sanggar tari Padnecwara tahun 1976. Di bawah panji Padnecwara, Retno telah melakukan berbagai pagelaran hampir setiap tahun.
Sebagai koreografer dan penari, dia memelihara kejujuran dalam berkarya. Dengan kejujuran dan kreativitas itu pula dia menghasilkan beberapa karya komposisi tari yang memadukan unsur klasik, tradisi, dengan selera penonton modern. Di antaranya, Langendriyan Damarwulan (1969), Abimanyu Gugur (1976), Roro Mendut (1977), Sawitri (1977), Palgunadi (1978), Rara Mendut (1979), Sekar Pembayun (1980), Keong Emas (1981), Begawan Ciptoning (1983), Kongso Dewo (1989), Dewabrata (1998), Surapati (2001), Alap-alapan Sukesi (2004), dan Portraits of Javanese Dance (2005).
Selain itu, dia juga telah melahirkan banyak seniman tari klasik muda. Kini (2005), Padnecwara telah melahirkan generasi ketiga dengan jumlah anggota sekitar 70 orang.
Maka pantaslah Retno Maruti menerima penghargaan Akademi Jakarta (AJ) tanggal 10 November 2005, atas pencapaian seumur hidup dan pengabdiannya di bidang kesenian dan humaniora. Retno terpilih dengan memperoleh skor tertinggi dari Dewan Juri (diketuai Prof Dr Edi Sedyawati dan beranggotakan Prof Dr Taufik Abdullah, Prof Dr Budi Darma, G Sidharta Soegijo, dan Suka Hardjana) berdasarkan tiga kualifikasi menonjol, yaitu memiliki daya cipta yang tinggi, mendalami dan mengungkapkan seni tradisi dengan kedalaman rasa, dan mencetak himpunan seniman muda yang punya apresiasi tinggi dan penguasaan atas khasanah seni klasik.
Retno menyisihkan 72 kandidat dari seluruh Indonesia setelah melewati tahap seleksi Penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2005 sejak Juni 2005. Ia orang kelima yang pernah menerima penghargaan serupa sejak tahun 1975. Mereka yang sebelumnya menerima penghargaan serupa adalah Rendra (1975), Zaini (1978), G Sidharta Soegijo (2003), Nano S dan Gusmiati Suid (2004). Kala itu penghargaan masih dinamakan “Hadiah Seni”, baru tahun 2005 nama tersebut diubah menjadi “Penghargaan Akademi Jakarta”.
Read the rest of this entry »
Sep 27
Ratno Timoer
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Si Buta dari Gua Hantu
Aktor film Ratno Timoer (usia 61 tahun), yang memerankan Si Buta dari Gua Hantu, meninggal dunia, Minggu 22 Desember 2002 pukul 16.30 WIB, di Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta Barat. Jenazahnya, disemayamkan di rumah duka di Jalan Duren Tiga, No 45, Pancoran, Jakarta Selatan.
Ratno Timoer dirawat di RS itu sejak 16 Desember 2002 di ruang Wijayakusuma No 3, karena menderita stroke dan komplikasi. Namun, ia sempat keluar dari rumah sakit dan berlebaran di rumah. Bahkan Ratno mengajak beberapa anak dan cucunya piknik ke Ancol, Jakarta Utara. Ia ingin melihat laut. “Beliau minta kami memakai baju kembar semua,” tutur Mirza Juneo, cucu Ratno Timoer.
Aktor bernama asli Ahmad Suratno ini lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 8 Maret 1942. Ia meninggalkan seorang isteri, Tien Samatha, yang dinikahi pada tahun 1970 dan setia mendampinginya sampai akhir hayat, serta lima anak dan sepuluh cucu.
Namanya terkenal di era akhir tahun 1960-an hingga dasawarsa 1970-an, setelah beberapa kali memerankan tokoh pendekar buta, Badra Mandrawata, yang diangkat dari komik karya Ganes Th, antara lain Si Buta dari Goa Hantu (1970) dan Misteri di Borobudur (1971). Sejak itu Ratno banyak bermain dalam jenis film silat, seperti Pendekar Bambu Kuning (1972).
Ia merintis karier mulai dari bawah. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) periode 1983-1998, sebelum menjadi bintang film pernah berjualan buku di Surabaya. Ia tertarik ke bidang film setelah diajak seorang rekannya. Lalu ia ke Jakarta dan mulai terlibat sebagai figuran dalam produksi film.
Kemudian ia menjadi pembantu unit dalam film Daerah Tak Bertuan (1963). Ia pun makin menekuni dunia perfilman ini dan mulai mendapat peran pembantu dalam film Di Ambang Fajar (1964) arahan sutradara Pietrajaya Burnama. Ia juga ikut bermain dalam Macan Kemayoran (1965) arahan sutradara Wim Umboh. Sampai akhirnya ia pertama kali mendapat peran utama dalam film Jakarta-Hongkong-Macao (1968) yang disutradarai Turino Djunaidy.
Selain sebagai aktor, ia juga berperan sebagai penulis skenario, sutradara, dan produser film. Ia bersama isterinya mendirikan perusahaan film PT Daya Isteri Film. Sebagai sutradara, ia lumayan banyak menghasilkan film seperti Jangan Kau Tangisi (1974), Ciuman Beracun (1976), dan Gadis Berdarah Dingin (1984). Sejumlah jabatan pernah dipegangnya, antara lain sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) periode 1983-1998.
Aktor yang aktif di Departemen Seni Budaya Golkar dan pernah juga menjadi anggota MPR pada periode 1992-1997 dan 1997-1999, itu mendapat sejumlah penghargaan di dunia film. Penghargaan yang diperoleh antara lain sebagai Aktor Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) di Bandung pada tahun 1975 lewat film Cinta arahan sutradara Wim Umboh; Aktor Terpopuler di Asia dalam Festival Film Asia Pasifik di Seoul, Korea Selatan, tahun 1973 lewat film Pendekar Bambu Kuning.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Sep 27
Ramadhan KH (1927-2006)
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Wartawan & Penulis Biografi
Wartawan dan penulis biografi Ramadhan KH (Ramadhan Kartahadimadja yang akrab dipanggil Kang Atun) meninggal dunia tepat di hari ulang tahunnya yang ke-79, Kamis 16 Maret 2006 pukul 08.30 waktu Cape Town, Afrika Selatan, atau pukul 13.30 WIB. Jenazah pria kelahiran Bandung 16 Maret 1927, ini akan tiba di Tanah Air Sabtu 18 Maret 2006 dan dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.
Anggota Akademi Jakarta yang sudah lama menderita kanker prostat itu meninggalkan satu istri, dua anak (Gumilang Ramadhan dan Gilang Ramadhan), serta lima cucu. Istrinya Salfrida Nasution Ramadhan, yang bertugas sebagai Konsul Jenderal RI di Cape Town, Afrika Selatan adalah istri kedua yang dinikahi 1993. Istri pertamanya, Pruistin Atmadjasaputra, yang dinikahi 1958 telah lebih dulu wafat 1990.
Menurut isterinya, Salfrida Nasution, walaupun beberapa bulan ini kankernya sudah sangat menjalar, bahkan hingga ke tulang sehingga kondisi tubuhnya sudah sangat lemah, Ramadhan masih bersemangat menulis dua buku terakhirnya. Dua buku yang belum terselesaikan tersebut adalah kumpulan cerpen dan novel. ”Bapak juga menjanjikan akan menulis satu sajak lagi buat saya, tetapi belum kesampaian, beliau sudah keburu dipanggil…,” tutur Salfrida yang masih larut dalam kesedihan, sebagaimana ditulis Kompas 17/3/2006.
Ramadhan, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara dari pasangan Raden Edjeh Kartahadimadja dan Sadiah, ini sejak kecil sudah akrab denga dunia sastra dan tulis-menulis. Dia sudah mulai produktif menulis sejak masih di SMA.
Hingga akhair hayatnya, sastrawan Angkatan ‘66, itu telah menulis lebih dari 30 judul buku. Salah satu karyanya berupa kumpulan puisi yang diterbitkan dalam buku berjudul Priangan Si Djelita (1956), ditulis saat Ramadhan kembali ke Indonesia dari perjalanan di Eropa 1954. Kala itu, ia menyaksikan tanah kelahirannya (Jawa Barat) sedang bergejolak akibat berbagai peristiwa separatis. Kekacauan sosial politik itu mengilhaminya menulis puisi-puisi tersebut.
Sastrawan Sapardi Djoko Damono, menilai buku tersebut sebagai puncak prestasi Ramadhan di dunia sastra Indonesia. Menurut Sapardi, sebagaimana dirilis Kompas, buku itu adalah salah satu buku kumpulan puisi terbaik yang pernah diterbitkan di Indonesia. “Dia adalah segelintir, kalau tidak satu-satunya, sastrawan yang membuat puisi dalam format tembang kinanti,” papar Sapardi.
Karya Ramadhan itu disebut Sapardi sebagai salah satu tonggak sastra Indonesia pada periode 1950-an, bersama karya-karya WS Rendra dan Toto Sudarto Bachtiar.
Pada tahun 1958, sesaat setelah menikah dengan Pruistin Atmadjasaputra, Ramadhan resmi menekuni karier sebagai wartawan kantor berita Antara di Bandung, Jawa Barat. Dia juga pernah bertugas sebagai Redaktur Majalah Kisah, Redaktur Mingguan Siasat dan Redaktur Mingguan Siasat Baru. Tugasnya sebagai wartawan dan kiprahnya di dunia sastra membuat Ramadhan banyak bergaul dengan para seniman Indonesia.
Menurut Kompas, perjalanan hidup kemudian membawanya sebagai salah seorang penulis biografi terbaik di negeri ini. Diawali dengan biografi Inggit Garnasih, Kuantar ke Gerbang (1981), dia kemudian menulis biografi tokoh-tokoh terkenal di Indonesia, seperti AE Kawilarang, Soemitro, Ali Sadikin, Hoegeng, Mochtar Lubis, dan DI Panjaitan.
Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang merupakan biografi mantan Presiden Soeharto yang dibuat saat Soeharto masih berada di puncak kekuasaannya pada tahun 1988.
Selain menulis buku-buku biografi, Ramadhan juga menulis karya sastra: Priangan Si Djelita (1956); Ladang Perminus
- Royan Revolusi, Novel, 1958; Antologie Bilingue de la Poesie Indonesienne Contemoraine, Novel, 1972; Kemelut Hidup, Novel, 1976; Keluarga Permana, Novel, 1978 dan Untuk Sang Merah Putih, Novel, 1988. Karyanya, Ladang Perminus berhasil meraih penghargaan SEA Write Award, 1993. ►e-ti/tsl, dari berbagai sumber
D. Seni tari Tradisi Kunsing
Kuantan singingi adalah salah satu kabupaten yang ada diprovnsi Riau. Dimana Kuantan sigingi banyak memiliki budaya . Budaya Kunata singingi yang terkenal adalah Tari Batobo.
Tari batobo adalah tarian yang diadakan saat perayaan panen. Dimana malam hari setelah panen diadkan penutupan tobo. sebagai rasa terimakasih/ Tari Batobo ini juga diiringi oleh musik-musik tradisional.
E. Sinopsis tari / berpasangan.
Seni tari merupakan karya cipta manusia yang indah. Seni tari dikatakan indah apabila rangkain dan bagian-bagiannya/elemen-elemen penunjang tari menjadi suatu susunan yang lengkap dan utuh sehingga mampu menumbuhkan kenikmatan bagi pemirsa.
Dalam buku Problem Of Art dikatakan bahwa tari adalah sejarah yang diciptakan secara ekspensif dan diciptakan manusia untuk dinikmati dengan rasa. Contoh : Gerak, busana/kostum, iringan music , proerti dan pola lantai.
B. Jenis-Jenis Tari
Hal ini lazim dikenal dengan istilah koreografi. Seorang koreografer( peƱata tari/pencipta tari) harus mengetahui, memahami, dan mempraktikkan pengetahuan komposisi tari.
Ditinjau dari gerakannya, seni tari dibagi kepada dua hal :
1. Tari repsentasionla, yaitu tari yang menggambarkan sesuatu secara jelas.
Contoh : Trai Bonang ( jawa tengah).
2. Tari Non representasional, yaitu tari yang tidka menggambarkan sesuatu ( abstrak).
Contoh : tari pendet ( bali ).
C. Tokoh Tari.
Penata Tari bagi Nurani Manusia
Seniman penata tari dan penari berambut sebahu, lulusan SMA Negeri 4 Surabaya, Sardono Waluyo Kusumo dikukuhkan menjadi Guru Besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 14 Januari 2004. Ia seniman pertama dari Asia yang mendapat penghargaan ISPA. Sepanjang karirnya dia telah menghasilkan tak kurang 25 tarian. Sejak usia 23 tahun ia tak pernah berhenti menciptakan karya tari bukan untuk jual beli, tetapi mencari arti bagi nurani manusia. Ia penata tari Indonesia berkaliber internasional.
Pagelaran tari “Nobody’s body” yang merupakan karya teranyarnya tahun 2000 serta peluncuran buku berjudul “Hanuman, Tarzan, dan Homo Erectus” turut menyemarakkan pengukuhan sang profesor yang seluruh hidupnya diabdikan hanya untuk seni tari.
Buku berisi kumpulan tulisan Sardono tentang tari agaknya menjadi salah satu alasan pelengkap penganugerahan jabatan pengajar tertinggi di lingkungan akademis itu. Mengingat, “sang prof” Mas Don –begitu pria kelahiran Surakarta 6 Maret 1945 ini biasa dipanggil— bukanlah jebolan sarjana setingkat S-1. Maklum, kuliah ayah satu anak ini, di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada maupun Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tidak sampai selesai. Kendati demikian gelar itu dijamin tidak palsu sebab sudah ditandatangani langsung oleh Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar pada 31 Mei 2003 lalu berdasarkan SK Bersama Menteri Pendidikan Nasional nomor 9601/A2.7/KP/2003.
Penghargaan seni tari yang pernah diterima Mas Don bukan hanya dari dalam negeri. Mas Don menerima Distinguished Artist Award dari International Society for the Perfoming Arts Foundation (ISPA), pada saat Masyarakat Seni Pertunjukan Internasional menyelenggarakan kongres di Singapura pada 20 Juni 2003 lalu.
ISPA memberi penghargaan untuk dedikasi Mas Don bagi dunia seni pertunjukan, terutama untuk kawasan Asia. Penghargaan sejenis pernah ISPA berikan ke beberapa seniman kaliber dunia seperti Martha Graham, Jerome Robbins, Mikhail Barysnikov, dan Sir Yehudi Menuhin. Dan, Sardono menjadi seniman pertama dari Asia yang mendapat penghargaan ISPA bersama dengan seniman asal Singapura, Ong Keng Sen.
Masyarakat Seni Pertunjukan Internasional atau International Society of Performing Arts (ISPA) yang berpusat di New York, AS dan didirikan tahun 1949, itu adalah sebuah forum terhormat dunia yang bertujuan mempromosikan nilai dan peran penting seni pertunjukan di dalam kehidupan. Organisasi ini beranggotakan sekitar 600 pengelola gedung pertunjukan, pusat kesenian, festival, kelompok seni pertunjukan, dan lembaga kesenian/kebudayaan pemerintah.
Lembaga ISPA ini juga mengenal Mas Don sebagai sosok yang mengangkat kebudayaan Jawa ke dunia internasional, namun uniknya, di sisi lain dia juga sering melawan tradisi Jawa. Dr Kwok Kian Woon, Kepala Practice Performing Arts Centre pada ISPA, menyebutkan banyak seniman Asia yang bagus tetapi Sardono bisa dikatakan sebagai seniman terkemuka yang memberi pengaruh pada perkembangan kesenian tradisional dan modern. Dia memberi warna lain dalam pertunjukan kontemporer, terutama untuk negara-negara Asia Tenggara.
Sementara dari Pemerintah negeri Belanda pada 1998, Mas Don menerima penghargaan berupa Prince Claus Award. Pemerintah Belanda melihat keseriusan Mas Don dalam melakukan riset di bidang seni dan budaya. Pengakuan lain dari dalam negeri dari Pemerintah RI terhadap Mas Don adalah penganugerahan penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah Republik Indonesia tahun 2003.
Gelar profesor menjadi bukti tingginya pengakuan semua pihak terhadap hidup berkesenian Mas Don, yang sejak usia 23 sudah menghasilkan tari berjudul Samgita Pancasona yang waktu itu sudah dipentaskan di Jogjakarta, Solo, Jakarta. Tak lama setelah pementasan itu, dengan membawa nama misi kebudayaan ke luar negeri pada tahun 1971 Mas Don dengan bangga mementaskan tari Cak Tarian Rina di Iran dan Jepang.
Sepanjang karirnya dia telah menghasilkan tak kurang 25 tarian. Diantaranya adalah Dongeng dari Dirah, Hutan Plastik, Hutan Merintih, Passage Through the Gong, Opera Diponegoro, Cak Tarian Rina, Awal Metamorfosis, dan Samgita Pancasona. Semua karyanya punya keunikan tersendiri sebab pasti berhubungan dengan kondisi suatu mayarakat pada kurun waktu tertentu yang “dipotretnya” menjadi karya tari.
Dongeng dari Dirah adalah salah satu karya spektakuler Mas Don. Karya ini sempat dibawakan di Prancis, pada tahun 1974 dan mendapat banyak pujian dari kalangan seni tari. Dengan tarian ini pula dia dikritisi sejajar dengan dua maestro seni pertunjukan dunia, yaitu Maurice Bejart dan Robert Wilson. Padahal, usia Mas Don saat berkeliling dunia mementaskan pertunjukan itu baru 29 tahun. Dongeng dari Dirah yang menorehkan nama Mas Don ke dunia seni tari internasional, itu diangkat dari kisah klasik asal Bali, Calon Arang.
Apresiasi dunia luar terhadap Mas Don memang tinggi. Saat melakukan perjalanan karir keliling ke Amerika Serikat tahun 1993, adalah salah satu saat perjalanan karir lainnya yang berkesan. Pentas penampilan berjudul Passage Through the Gong ketika itu disambut hangat publik seni Negara Paman Sam. Road show tersebut digelar di Next Wave Festival Broklyn Academy of Music New York, San Francisco, Los Angeles, dan Burlington. Begitu antusiasnya sambutan warga New York, Mas Don melakukan pergelaran dua kali di ibu kota dunia itu. Dan di tahun yang sama, pentas kedua digelar di BAM Carey Playhouse, New York.
Keuletan Mas Don dalam menciptakan sebuah karya tari tak pernah berhenti. Dia terus menunjukkan kreativitas-kreativitas baru, biasanya setelah sekian lama mendalami kehidupan masyarakat yang ingin “dipotretnya” menjadi tarian. Dia mau masuk ke dalam kehidupan masyarakat tertentu. Seperti, untuk membuat kreasi tari dengan latar belakang masyarakat Dayak, Mas Don harus homestay di tengah hutan belantara Kalimantan bersama komunitas Dayak. Begitu juga saat dia terinspirasi suku Nias di Sumatera Utara.
Pargelaran pertunjukan berjudul Meta Ekologi yang mengetengahkan kepeduliannya terhadap lingkungan, di tahun 1975, terinspirasi setelah dia mendalami kehidupan Dayak dan Nias. Karya Mas Don lain tentang lingkungan adalah Hutan Plastik di tahun 1983 dan Hutan Merintah tahun 1987. Mas Don juga menghasilkan lakon Maha Buta pertanda dia tidak melupakan kehidupan spiritual yang diberikan Sang Khalik.
Di usia paruh bayanya, sejak tiga tahun terakhir Mas Don mulai berperan sebagai guru bagi siapa saja. Baginya, menjadi guru justru “menambah ilmu”, mendapatkan hal baru sebab pengalaman mengajar itu berbeda dengan menari.
Ayah dari Nugrahani, anak buah perkawinanya dengan Amna W.Kusumo ini tidak hanya menggeluti seni koreografi dengan menghasilkan karya-karya koreografi, tapi juga terjun sebagai pengader koreografer-koreografer muda. Hal itu dilakukannya dengan cara terjun sebagai seorang pengajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Solo, dan di Institut Kesenian Jakarta.
Dan jika bicara tentang mengajar maka pria berambut sebahu ini pasti akan bersemangat, terutama tentang perannya sebagai guru. Misalnya, Sardono mewajibkan setiap muridnya mempresentasikan karya akhirnya di tempat asal si murid. Dengan begitu Sardono bisa melihat bagaimana si murid “melihat” komunitas asal si murid itu sendiri, misalnya, setelah dua tahun belajar kesenian. Si seniman tak harus terputus interaksinya dengan masyarakatnya sendiri.
“Saya hanya berusaha memperkaya mereka dengan apa yang sebenarnya saya dapatkan, juga dari murid yang lain. Misalnya, saya membawa pengetahuan dari murid di Australia ketika mengajar di Solo, atau sebaliknya, setelah melihat presentasi murid di Padang, saya membawanya ketika mengajar di Singapura,” tuturnya. Ia memang sangat terlibat dengan pasang surut lingkungan masyarakatnya.
Belakangan ini Sardono tak lagi menghabiskan banyak waktunya di Indonesia, tapi sudah lintas negara Asia Tenggara. Dia mengaku masih pergi ke Padang, Bandung, atau Jakarta, di mana muridnya menggelar presentasi. Selain itu, ia juga pergi ke Hanoi, Kamboja, Singapura, dan lainnya. Lingkup penggaliannya tak lagi terbatas pada tradisi di Indonesia, tetapi mencakup Asia, terutama Asia Tenggara.
Staf pengajar IKJ ini sejak awal sudah mencoba berusaha memajukan kesenian di Indonesia dengan ikut terlibat mendirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, yang merupakan cikal bakal Institut Kesenian Jakarta, pada 1970. Sekolah seni yang didirikannya dimaksudkannya untuk mendidik para seniman supaya menjadi orang besar. Dia lalu menggalakkan berbagai workshop dengan seniman tari dari luar negeri. Misalnya dengan Peter Brooks di Ecole Superieure de Choreographie di Prancis. Lantas, melakukan workshop di Denmark bersama dengan Odin Teatret dan Theatre du Soleil Prancis.
Dalam setiap mengajar Mas Don berusaha untuk tampil sekomprehensif mungkin, misalnya dengan menyisipkan elemen-elemen seni lain seperti senirupa, film, dan musik. Mas Don yang juga staf pengajar Program Pasca Sarjana STSI Solo ini beralasan, semua unsur seni itu saling terkait. Mendalami seni tari harus pula bisa melakukan seni peran di atas panggung, harus bisa melihat visualisasi dari sisi penonton dan bukan hanya dirinya sendiri.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Sep 27
Sanusi Pane (1905-1968)
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Sastrawan Pujangga Baru
Sanusi Pane, sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Pria kelahiran Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905, ini juga berprofesi sebagai guru dan redaktur majalah dan surat kabar. Ia juga aktif dalam dunia pergerakan politik, seorang nasionalis yang ikut menggagas berdirinya “Jong Bataks Bond.” Karya-karyanya banyak diterbitkan pada 1920 -1940-an. Meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968.
Bakat seni mengalir dari ayahnya Sutan Pengurabaan Pane, seorang guru dan seniman Batak Mandailing di Muara Sipongi, Mandailing Natal. Mereka delapan bersaudara, dan semuanya terdidik dengan baik oleh orang tuanya. Di antara saudaranya yang juga menjadi tokoh nasional,adalah Armijn Pane (sastrawan), dan Lafran Pane salah (seorang pendiri organisasi pemuda Himpunan Mahasiswa Islam).
Sanusi Pane menempuh pendidikan formal HIS dan ElS di Padang Sidempuan, Tanjungbalai, dan Sibolga, Sumatera Utara. Lalu melanjut ke MULO di Padang dan Jakarta, tamat 1922. Kemudian tamat dari Kweekschool (Sekolah Guru) Gunung Sahari, Jakarta, tahun 1925. Setelah tamat, ia diminta mengajar di sekolah itu juga sebelum dipindahkan ke Lembang dan jadi HIK. Setelah itu, ia mendapat kesempatan melanjut kuliah Othnologi di Rechtshogeschool.
Setelah itu, pada 1929-1930, ia mengunjungi India. Kunjungan ke India ini sangat mewarnai pandangan kesusasteraannya. Sepulang dari India, selain aktif sebagai guru, ia juga aktif jadi redaksi majalah TIMBUL (berbahasa Belanda, lalu punya lampiran bahasa Indonesia). Ia banyak menulis karangan-karangan kesusastraan, filsafat dan politik.
Selain itu, ia juga aktif dalam dunia politik. Ikut menggagas dan aktif di “Jong Bataks Bond.” Kemudian menjadi anggota PNI. Akibat keanggotannya di PNI, ia dipecat sebagai guru pada 1934. Namun sastrawan nasionalis ini tak patah arang. Ia malah menjadi pemimpin sekolah-sekolah Perguruan Rakyat di Bandung dan menjadi guru pada sekolah menengah Perguruan Rakyat di Jakarta. Kemudian tahun 1936, ia menjadi pemimpin surat kabar Tionghoa-Melayu KEBANGUNAN di Jakarta. Lalu tahun 1941, menjadi redaktur Balai Pustaka.
Sanusi Pane sastrawan pujangga baru yang fenomenal. Dalam banyak hal berbeda (antipode) dari Sutan Takdir Alisjahbana. Jika STA menghendaki coretan yang hitam dan tebal dibawah pra-Indonesia, yang dianggapnya telah menyebabkan bangsa Indonesia telah menjadi nista, Sanusi malah berpandangan sebaliknya, mencari ke jaman Indonesia purba dan ke arah nirwana kebudayaan Hindu-Budha. Sanusi mencari inspirasi pada kejayaan budaya Hindu-Budha di Indonesia pada masa lampau. Perkembangan filsafat hidupnya sampai pada sintesa Timur dan Barat, persatuan rohani dan jasmani, akhirat dan dunia, idealisme dan materialisme. Puncak periode ini ialah dramanya Manusia Baru yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1940.
Karya-karyanya yang terkenal diantaranya: Pancaran Cinta dan Prosa Berirama (1926), Puspa Mega dan Kumpulan Sajak (1927), Airlangga, drama dalam bahasa Belanda, (1928), Eenzame Caroedalueht, drama dalam bahasa Belanda (1929), Madah Kelana dan kumpulan sajak yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (1931), naskah drama Kertajaya (1932), naskah drama Sandhyakala Ning Majapahit (1933), naskah drama Manusia Baru yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (1940). Selain itu, ia juga menerjemahkan dari bahasa Jawa kuno kekawin Mpu Kanwa dan Arjuna Wiwaha yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (1940).
Jiwa nasionalismenya terlihat antara lain dari pernyataan Sanusi Pane tentang akan dibentuknya perhimpunan pemuda-pemuda Batak yang kemudian disepakati bernama “Jong Bataks Bond.” Ia menyatakan: “Tiada satu pun di antara kedua pihak berhak mencaci maki pihak lainnya oleh karena dengan demikian berarti bahwa kita menghormati jiwa suatu bangsa yang sedang menunjukkan sikapnya.” (Dikutip dari Nationalisme, Jong Batak, Januari, 1926).
Dalam naskah itu, Sanusi Pane menyampaikan gagasannya bahwa perhimpunan bagi pemuda-pemuda Batak bukan berarti upaya pembongkaran terhadap de Jong Sumateranen Bond (JSB). Tetapi sebaliknya, menumbuhkan persaudaraan dan persatuan orang-orang Sumatera. Karena itu, Sanusi Pane mengingatkan agar tak ada caci maki antara kedua belah pihak. Semua harus saling menghargai dan menghormati sebagai sesama bangsa, lebih-lebih sebagai sesama Sumatera.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Sep 27
AWK Samosir
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia 1 Comment »
Totalitas Buat Gondang dan Opera Batak
Hampir seluruh hidupnya untuk gondang, uning-uningan, tortor dan opera Batak. Ia murid langsung almarhum Tilhang Oberlin Gultom itu (pendiri opera Batak akhir tahun 1920-an). Ia amat gelisah atas perkembangan kesenian Batak dewasa ini. Sebab, menurutnya, semua orang Batak sudah menyeleweng dari budayanya. Lihat pesta-pesta perkawinan, band lebih selalu ditanggap ketimbang gondang termasuk saat mangulosi, menyampirkan ulos kepada pengantin dan kerabatnya.
Menuju rumahnya di belahan timur Jakarta selepas tol, jalan aspal menanjak dan sempit. Hanya bilangan kilometer dari Taman Mini. Di sisi jalan menganga sebuah gang semak dan tanah coklat. Seorang perempuan muda cantik sedang menanti. Ia memandu kami.
Tak sampai tiga menit, tersua hamparan tanah merah 200-an meter persegi. Kering dan keras sebab matahari sedang terik. Tak satu belukar tumbuh. Hanya rumah petak berpintu lima yang kelihatan di seberang. Lantainya satu kaki di bawah permukaan tanah merah itu. Bila hujan turun, gumpalan lumpur mesti melekat di kasut mengonggok di lantai rumah bilik itu.
Sesosok laki-laki dengan seluruh rambut memutih berdiri di mulut pintu salah satu petak. Di tahun 1970 hingga 1980-an, wajah itu kerap terlihat di TVRI. Jarinya memetik kecapi di tengah gondang atau uning-uningan Toba. Tahunan ia menata dan mengisi tayangan tortor dan opera Batak di situ. Di tahun 1990-an sesekali ia mengiringi nyanyian dan tari Batak, bersama regu band Tarida Pandjaitan br Hutauruk, dalam program Horas di televisi swasta. Ia mudah dikenali dalam sorotan kamera, sebab pada usia tujuh puluhan, rambut putihnya selalu terkucir.
Read the rest of this entry »
Sep 27
Rustandi Kartakusuma (1921-2008)
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia 1 Comment »
Sastrawan Angkatan 45
Budayawan dan sastrawan angkatan 45, Mh Rustandi Kartakusuma, yang akrab dipanggil Uyus, meninggal dunia dalam usia 87 tahun, Jumat 11 April 2008 pukul 06.15 WIB di Panti Jompo Ria Pembangunan, Cibubur. Pria kelahiran Ciamis, Jawa Barat, 20 Juli 1921, itu tidak menikah sampai akhir hayatnya. Pada masa mudanya, dia dikenal sebagai sastrawan yang produktif. Dimakamkan Jumat siang 11/4 di Tempat Pemakaman Umum Pondok Rangon, Cibubur.
Uyus pernah mengajar di Yale University dan Harvard University, Amerika Serikat. Juga pernah memberikan kuliah di Massachusetts Institute of Technology atas undangan Stichting voor Culturele Samenwerking. Sempat setahun tinggal di Belanda dan belajar musik di Muzieklyceum, Amsterdam.
Pada masa tuanya, sejak 13 November 1996, Uyus tinggal di Panti Jompo setelah sebelumnya menumpang di rumah kakaknya di Kebon Sayur, Jakarta. Tahun 2004 Presiden Megawati Soekarnoputri ia menganugerahkan penghargaan Satya Lencana Kebudayaan atas jasanya mengembangkan kesusastraan dan kebudayaan Sunda. Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi juga menganugerahkan penghargaan Sastra Rancage atas kumpulan cerpennya.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com/
Sep 27
Rusli
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Si Pelukis Avant Garde
Rusli, pelukis senior yang sejajar dan seangkatan dengan pelukis Affandi, Sudjojono dan Hendra Gunawan. Dia dikenal sebagai tokoh pembaharu seni lukis Indonesia. Di samping juga konsistensinya untuk mempertahankan prinsip-prinsip dalam berkesenian, yakni kesederhanaan, baik dalam lukisan maupun dirinya.
Bagi Rusli, melukis bukan sekadar sebuah profesi, melainkan lebih tepat sebagai panggilan hidup dan pengabdian. Sebagai pelukis, Rusli memunyai karakter yang khas dalam karya-karyanya. Meski lukisan-lukisannya tampak sederhana, baik dalam garis, bidang, maupun warna, selalu tampak menarik.
Lukisan-lukisannya yang selalu berlatar putih adalah pengejawantahan dari sebuah kosmos. Bisa dilihat dari sapuan warna-warna tropisnya yang terbentuk dari bermacam garis sekali jadi. Sebagai bentuk pemahaman yang sangat kental darinya pada alam dan kehidupan. Karena bahasa garis itu pula, banyak orang yang tak gampang mencerna dan memahami lukisannya. Sehingga, seorang temannya, Umar Kayam, menyebut Rusli sebagai pelukis Avant Garde. Sebutan yang telah memopulerkan karya-karya Rusli.
Read the rest of this entry »
Sep 27
Roedjito (1932-2003)
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Tokoh Seni di Balik Layar
Sia seorang tokoh terkemuka dalam jagat seni pertunjukan Indonesia. Seorang skenografer pertunjukan yang berperan besar di balik layar. Roedjito, dipanggil Mas Djito, seniman kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, 21 Juni 1932 meninggal dunia di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta, Jumat, 26 September 2003, pukul 00.20 WIB. Seniman berpenampilan bersahaja tetapi selalu memancarkan pikiran besar.
Kesederhanaan itulah prinsip Mbah Djito dalam mengarungi samudera hidupnya. Tercermin nyata dari kondisi rumah yang dihuni, hanya seluas 2,5×3,5 meter persegi. Tapi dalam rumah kecil itu, bertumpuk tujuh ribuan buku dalam berbagai bahasa. Dia skenografer pertunjukan terkemuka, yang memilih hidup sederhana. Baginya, uang bukan segala-galanya. Ada atau tidak ada uang, dia selalu mengerjakan sesuatu dengan kesungguhan yang sama.
Mbah Djito mengawali kipranya dalam latar kesenian, saat masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketika itu, ia bertemu dengan beberapa seniman, seperti sastrawan Asrul Sani, dan sutradara film Usmar Ismail dan pelukis Oesman Effendi. Bergaul denga para seniman itu, membulatkan tekadnya meninggalkan bangku kuliah.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Sep 27
Ridwan Saidi
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Politisi dan Budayawan Betawi
Ridwan Saidi, pria kelahiran Jakarta, 2 Juli 1942, ini seorang politisi dan budaywan Betawi. Lulusan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia ini mantan Ketua Umum PB HMI, 1974-1976 dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) periode 1977-1987.
Saat menjadi anggota DPR, mantan Ketua KNPI (1973-1978), ini hanya memiliki sebuah skuter Bajaj. Namun, ia lebih senang naik bis dan hidup hanya dari gajinya.
Semasa mahasiswa, pernah dua setengah tahun berhenti kuliah. Hanya memiliki celana dua potong, yang satunya malah sobek. Sebelum menyelesaikan pendidikan di FISIP UI, ia pernas studi di Fakultas Publistik, Universitas Padjadjaran 1962-1963namun tidak selesai. Semasa mahasiswa aktif sebagai Kepala Staf Batalion Soeprapto Resimen Mahasiswa Arief Rahman Hakim (1966), Sekretaris Jendral Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (1973-1975) dan Ketua Umum PB HMI (1974-1976).
Kemudian, ia menjadi Anggota DPR Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, 1977-1982 dan 1982-1987 serta menjadi Wakil Ketua Komisi APBN, 1977-1982 dan Wakil Ketua Komisi X, 1982-1987. Lalu, ia menjadi Ketua Umum Partai Masyumi Baru, 1995-2003.
Budayawan Betawi yang pernah belajar melukis dari bekas teman SMP-nya, Sutradara Ali Shahab ini menjadi Ketua Steering Comittee Kongres Kebudayaan, 2003. Di samping itu aktif sebagai Direktur Eksekutif Indonesia Democracy Watch dan Ketua Komite Waspada Komunisme.
Suami dari Yahma Wisnani ini juga seorang penulis produktif. Selain menulis di berbagai media massa, ia telah menerbitakn beberapa karyanya, antara lain: Golkar Pascapemilu 1992, 1993; Anak Betawi Diburu Intel Yahudi, 1996; Profil Orang Betawi: Asal muasal, kebudayaan, dan adat istiadatnya, 1997; Status Piagam Jakarta: Tinjauan hukum dan sejarah, 2007.
Kegiatan lain yang pernah dilakukan dan diikuti penggemar musik dan sastra ini antara lain: White House Conference on Youth, Colorado, Amerika Serikat, 1971; Australia-Indonesia Dialogue, Canberra, Australia, 1981; International Parliament Union Conference, Manila, Filipina, 1982; ASEAN Parliament Conference, Singapura, 1983; Muktamar Rakyat Islam se-Dunia, Irak, 1993; Babylonian Cultural Festival, Irak, 1994.
Dari sumber Pusat Data dan Analisa Tempo bahwa yang merancang dan membuat lambang baru Partai Persatuan Pembangunan (PPP) — berbentuk bintang sudut lima — ternyata Ridwan Saidi. Menurut Ridwan, mantan Ketua Departemen Organisasi & Pemilu DPP PPP, ini proses pembuatannya hanya satu hari. Tetapi proses pengendapannya yang lama.
Ridwan berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya dulu pegawai negeri yang hidup pas- pasan. Masa prasekolah dilaluinya di madrasah, yang para ustadnya diberi wewenang menghukum anak didik yang nakal.
Ia penggemar seni, terutama sastra dan musik. ”Saya senang jazz. Pertunjukan Tjok Sinsu sapai Jack Lesmana selalu saya tonton,” ujarnya. Dari Wisnani, istrinya, yang asal Minang, Ridwan kini ayah sejumlah anak. Wisnani dulu juga aktivis HMI, lulusan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam UI.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Sep 27
Retno Maruti
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Maestro Tari Jawa Klasik
Retno Maruti, seniman yang memiliki daya cipta tinggi. Dia maestro tari Jawa klasik. Penari dan kreografer ini sangat kreatif mengembangkan tari Jawa klasik yang dianggap ‘kuno’ menjadi memukau selera penonton ‘modern’ dalam beberapa pagelaran monumental. Selain mampu menampilkan seni tradisi dengan suatu kedalaman rasa secara kreatif, Retno juga berhasil melahirkan seniman dan penari klasik muda.
Perempuan bernama lengkap Theodora Retno Maruti, kelahiran Solo, 8 Maret 1947, ini bersama suaminya yang juga penari, Arcadilus Sentot Sudiharto, mendirikan sanggar tari Padnecwara tahun 1976. Di bawah panji Padnecwara, Retno telah melakukan berbagai pagelaran hampir setiap tahun.
Sebagai koreografer dan penari, dia memelihara kejujuran dalam berkarya. Dengan kejujuran dan kreativitas itu pula dia menghasilkan beberapa karya komposisi tari yang memadukan unsur klasik, tradisi, dengan selera penonton modern. Di antaranya, Langendriyan Damarwulan (1969), Abimanyu Gugur (1976), Roro Mendut (1977), Sawitri (1977), Palgunadi (1978), Rara Mendut (1979), Sekar Pembayun (1980), Keong Emas (1981), Begawan Ciptoning (1983), Kongso Dewo (1989), Dewabrata (1998), Surapati (2001), Alap-alapan Sukesi (2004), dan Portraits of Javanese Dance (2005).
Selain itu, dia juga telah melahirkan banyak seniman tari klasik muda. Kini (2005), Padnecwara telah melahirkan generasi ketiga dengan jumlah anggota sekitar 70 orang.
Maka pantaslah Retno Maruti menerima penghargaan Akademi Jakarta (AJ) tanggal 10 November 2005, atas pencapaian seumur hidup dan pengabdiannya di bidang kesenian dan humaniora. Retno terpilih dengan memperoleh skor tertinggi dari Dewan Juri (diketuai Prof Dr Edi Sedyawati dan beranggotakan Prof Dr Taufik Abdullah, Prof Dr Budi Darma, G Sidharta Soegijo, dan Suka Hardjana) berdasarkan tiga kualifikasi menonjol, yaitu memiliki daya cipta yang tinggi, mendalami dan mengungkapkan seni tradisi dengan kedalaman rasa, dan mencetak himpunan seniman muda yang punya apresiasi tinggi dan penguasaan atas khasanah seni klasik.
Retno menyisihkan 72 kandidat dari seluruh Indonesia setelah melewati tahap seleksi Penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2005 sejak Juni 2005. Ia orang kelima yang pernah menerima penghargaan serupa sejak tahun 1975. Mereka yang sebelumnya menerima penghargaan serupa adalah Rendra (1975), Zaini (1978), G Sidharta Soegijo (2003), Nano S dan Gusmiati Suid (2004). Kala itu penghargaan masih dinamakan “Hadiah Seni”, baru tahun 2005 nama tersebut diubah menjadi “Penghargaan Akademi Jakarta”.
Read the rest of this entry »
Sep 27
Ratno Timoer
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Si Buta dari Gua Hantu
Aktor film Ratno Timoer (usia 61 tahun), yang memerankan Si Buta dari Gua Hantu, meninggal dunia, Minggu 22 Desember 2002 pukul 16.30 WIB, di Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta Barat. Jenazahnya, disemayamkan di rumah duka di Jalan Duren Tiga, No 45, Pancoran, Jakarta Selatan.
Ratno Timoer dirawat di RS itu sejak 16 Desember 2002 di ruang Wijayakusuma No 3, karena menderita stroke dan komplikasi. Namun, ia sempat keluar dari rumah sakit dan berlebaran di rumah. Bahkan Ratno mengajak beberapa anak dan cucunya piknik ke Ancol, Jakarta Utara. Ia ingin melihat laut. “Beliau minta kami memakai baju kembar semua,” tutur Mirza Juneo, cucu Ratno Timoer.
Aktor bernama asli Ahmad Suratno ini lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 8 Maret 1942. Ia meninggalkan seorang isteri, Tien Samatha, yang dinikahi pada tahun 1970 dan setia mendampinginya sampai akhir hayat, serta lima anak dan sepuluh cucu.
Namanya terkenal di era akhir tahun 1960-an hingga dasawarsa 1970-an, setelah beberapa kali memerankan tokoh pendekar buta, Badra Mandrawata, yang diangkat dari komik karya Ganes Th, antara lain Si Buta dari Goa Hantu (1970) dan Misteri di Borobudur (1971). Sejak itu Ratno banyak bermain dalam jenis film silat, seperti Pendekar Bambu Kuning (1972).
Ia merintis karier mulai dari bawah. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) periode 1983-1998, sebelum menjadi bintang film pernah berjualan buku di Surabaya. Ia tertarik ke bidang film setelah diajak seorang rekannya. Lalu ia ke Jakarta dan mulai terlibat sebagai figuran dalam produksi film.
Kemudian ia menjadi pembantu unit dalam film Daerah Tak Bertuan (1963). Ia pun makin menekuni dunia perfilman ini dan mulai mendapat peran pembantu dalam film Di Ambang Fajar (1964) arahan sutradara Pietrajaya Burnama. Ia juga ikut bermain dalam Macan Kemayoran (1965) arahan sutradara Wim Umboh. Sampai akhirnya ia pertama kali mendapat peran utama dalam film Jakarta-Hongkong-Macao (1968) yang disutradarai Turino Djunaidy.
Selain sebagai aktor, ia juga berperan sebagai penulis skenario, sutradara, dan produser film. Ia bersama isterinya mendirikan perusahaan film PT Daya Isteri Film. Sebagai sutradara, ia lumayan banyak menghasilkan film seperti Jangan Kau Tangisi (1974), Ciuman Beracun (1976), dan Gadis Berdarah Dingin (1984). Sejumlah jabatan pernah dipegangnya, antara lain sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) periode 1983-1998.
Aktor yang aktif di Departemen Seni Budaya Golkar dan pernah juga menjadi anggota MPR pada periode 1992-1997 dan 1997-1999, itu mendapat sejumlah penghargaan di dunia film. Penghargaan yang diperoleh antara lain sebagai Aktor Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) di Bandung pada tahun 1975 lewat film Cinta arahan sutradara Wim Umboh; Aktor Terpopuler di Asia dalam Festival Film Asia Pasifik di Seoul, Korea Selatan, tahun 1973 lewat film Pendekar Bambu Kuning.
Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Sep 27
Ramadhan KH (1927-2006)
Posted by: admin in Daftar Tokoh Seniman Indonesia No Comments »
Wartawan & Penulis Biografi
Wartawan dan penulis biografi Ramadhan KH (Ramadhan Kartahadimadja yang akrab dipanggil Kang Atun) meninggal dunia tepat di hari ulang tahunnya yang ke-79, Kamis 16 Maret 2006 pukul 08.30 waktu Cape Town, Afrika Selatan, atau pukul 13.30 WIB. Jenazah pria kelahiran Bandung 16 Maret 1927, ini akan tiba di Tanah Air Sabtu 18 Maret 2006 dan dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.
Anggota Akademi Jakarta yang sudah lama menderita kanker prostat itu meninggalkan satu istri, dua anak (Gumilang Ramadhan dan Gilang Ramadhan), serta lima cucu. Istrinya Salfrida Nasution Ramadhan, yang bertugas sebagai Konsul Jenderal RI di Cape Town, Afrika Selatan adalah istri kedua yang dinikahi 1993. Istri pertamanya, Pruistin Atmadjasaputra, yang dinikahi 1958 telah lebih dulu wafat 1990.
Menurut isterinya, Salfrida Nasution, walaupun beberapa bulan ini kankernya sudah sangat menjalar, bahkan hingga ke tulang sehingga kondisi tubuhnya sudah sangat lemah, Ramadhan masih bersemangat menulis dua buku terakhirnya. Dua buku yang belum terselesaikan tersebut adalah kumpulan cerpen dan novel. ”Bapak juga menjanjikan akan menulis satu sajak lagi buat saya, tetapi belum kesampaian, beliau sudah keburu dipanggil…,” tutur Salfrida yang masih larut dalam kesedihan, sebagaimana ditulis Kompas 17/3/2006.
Ramadhan, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara dari pasangan Raden Edjeh Kartahadimadja dan Sadiah, ini sejak kecil sudah akrab denga dunia sastra dan tulis-menulis. Dia sudah mulai produktif menulis sejak masih di SMA.
Hingga akhair hayatnya, sastrawan Angkatan ‘66, itu telah menulis lebih dari 30 judul buku. Salah satu karyanya berupa kumpulan puisi yang diterbitkan dalam buku berjudul Priangan Si Djelita (1956), ditulis saat Ramadhan kembali ke Indonesia dari perjalanan di Eropa 1954. Kala itu, ia menyaksikan tanah kelahirannya (Jawa Barat) sedang bergejolak akibat berbagai peristiwa separatis. Kekacauan sosial politik itu mengilhaminya menulis puisi-puisi tersebut.
Sastrawan Sapardi Djoko Damono, menilai buku tersebut sebagai puncak prestasi Ramadhan di dunia sastra Indonesia. Menurut Sapardi, sebagaimana dirilis Kompas, buku itu adalah salah satu buku kumpulan puisi terbaik yang pernah diterbitkan di Indonesia. “Dia adalah segelintir, kalau tidak satu-satunya, sastrawan yang membuat puisi dalam format tembang kinanti,” papar Sapardi.
Karya Ramadhan itu disebut Sapardi sebagai salah satu tonggak sastra Indonesia pada periode 1950-an, bersama karya-karya WS Rendra dan Toto Sudarto Bachtiar.
Pada tahun 1958, sesaat setelah menikah dengan Pruistin Atmadjasaputra, Ramadhan resmi menekuni karier sebagai wartawan kantor berita Antara di Bandung, Jawa Barat. Dia juga pernah bertugas sebagai Redaktur Majalah Kisah, Redaktur Mingguan Siasat dan Redaktur Mingguan Siasat Baru. Tugasnya sebagai wartawan dan kiprahnya di dunia sastra membuat Ramadhan banyak bergaul dengan para seniman Indonesia.
Menurut Kompas, perjalanan hidup kemudian membawanya sebagai salah seorang penulis biografi terbaik di negeri ini. Diawali dengan biografi Inggit Garnasih, Kuantar ke Gerbang (1981), dia kemudian menulis biografi tokoh-tokoh terkenal di Indonesia, seperti AE Kawilarang, Soemitro, Ali Sadikin, Hoegeng, Mochtar Lubis, dan DI Panjaitan.
Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang merupakan biografi mantan Presiden Soeharto yang dibuat saat Soeharto masih berada di puncak kekuasaannya pada tahun 1988.
Selain menulis buku-buku biografi, Ramadhan juga menulis karya sastra: Priangan Si Djelita (1956); Ladang Perminus
- Royan Revolusi, Novel, 1958; Antologie Bilingue de la Poesie Indonesienne Contemoraine, Novel, 1972; Kemelut Hidup, Novel, 1976; Keluarga Permana, Novel, 1978 dan Untuk Sang Merah Putih, Novel, 1988. Karyanya, Ladang Perminus berhasil meraih penghargaan SEA Write Award, 1993. ►e-ti/tsl, dari berbagai sumber
D. Seni tari Tradisi Kunsing
Kuantan singingi adalah salah satu kabupaten yang ada diprovnsi Riau. Dimana Kuantan sigingi banyak memiliki budaya . Budaya Kunata singingi yang terkenal adalah Tari Batobo.
Tari batobo adalah tarian yang diadakan saat perayaan panen. Dimana malam hari setelah panen diadkan penutupan tobo. sebagai rasa terimakasih/ Tari Batobo ini juga diiringi oleh musik-musik tradisional.
E. Sinopsis tari / berpasangan.
Rabu, 28 Desember 2011
Chord Guitar Lagu Aku yang tersakiti_Judika
Lirik Lagu Judika – Aku Yang Tersakiti
Intro: A# F Gm 2x
A# F Gm
Pernahkah kau merasa
Cm G F
Jarak antara kita
A# F Gm
Kini semakin terasa
Cm G F
Setelah kau kenal dia
A# F Gm
Aku tiada percaya
Cm G F
Teganya kau putuskan
A# F Gm
Indahnya cinta kita
Cm G F
Yang tak ingin ku akhiri
D# F D# F
Kau pergi tinggalkanku
Chorus:
A#
Tak pernahkah kau sadari
Gm
Akulah yang kau sakiti
D#
Engkau pergi dengan janjimu
F
yang telah kau ingkari
A#
Oh Tuhan tolonglah aku
Gm
Hapuskan rasa cintaku
D#
Akupun ingin bahagia
F
Walau tak bersama dia
[solo] A# F Gm Cm G F 2x
Cm
Memang tak kan mudah
D# A# F Gm
Bagiku tuk lupakan segalanya
D# F
Aku pergi untuk dia
Chorus:
A#
Tak pernahkah kau sadari
Gm
Akulah yang kau sakiti
D#
Engkau pergi dengan janjimu
F
yang telah kau ingkari
A#
Oh Tuhan tolonglah aku
Gm
Hapuskan rasa cintaku
D#
Akupun ingin bahagia
F
Walau tak bersama dia
A# Gm D# F
Diaaa
A#
Oh Tuhan tolonglah aku
Gm
Hapuskan rasa cintaku
D#
Akupun ingin bahagia
F
Walau tak bersama dia
A# F Gm 2x
Intro: A# F Gm 2x
A# F Gm
Pernahkah kau merasa
Cm G F
Jarak antara kita
A# F Gm
Kini semakin terasa
Cm G F
Setelah kau kenal dia
A# F Gm
Aku tiada percaya
Cm G F
Teganya kau putuskan
A# F Gm
Indahnya cinta kita
Cm G F
Yang tak ingin ku akhiri
D# F D# F
Kau pergi tinggalkanku
Chorus:
A#
Tak pernahkah kau sadari
Gm
Akulah yang kau sakiti
D#
Engkau pergi dengan janjimu
F
yang telah kau ingkari
A#
Oh Tuhan tolonglah aku
Gm
Hapuskan rasa cintaku
D#
Akupun ingin bahagia
F
Walau tak bersama dia
[solo] A# F Gm Cm G F 2x
Cm
Memang tak kan mudah
D# A# F Gm
Bagiku tuk lupakan segalanya
D# F
Aku pergi untuk dia
Chorus:
A#
Tak pernahkah kau sadari
Gm
Akulah yang kau sakiti
D#
Engkau pergi dengan janjimu
F
yang telah kau ingkari
A#
Oh Tuhan tolonglah aku
Gm
Hapuskan rasa cintaku
D#
Akupun ingin bahagia
F
Walau tak bersama dia
A# Gm D# F
Diaaa
A#
Oh Tuhan tolonglah aku
Gm
Hapuskan rasa cintaku
D#
Akupun ingin bahagia
F
Walau tak bersama dia
A# F Gm 2x
Chord guitar Yui _ Goodbye days
A2 E Bm D A2
Dakara ima ai ni yuku
E F#m E
So kimetanda
A2 E Bm D A2
Poketto no kono kyoku wo
E F#m D
kimi ni kikasetai
Refrain:
Bm C#m
Sotto boryu-mu wo agete
Dsus2 G E F#m
Tashikamete mitayo
Chorus:
Dsus2
Oh Good-bye Days
E F#m A2
Ima, kawaru ki ga suru
Dsus2 E F#m F#/Gb
Kinou made ni So Long
Dsus2 E
Kakko yoku nai
F#m A2 Bm Bm C#m Dm
Yasashisa ga soba ni aru kara
F#m E Dsus2 A2 F#m E Dsus2
La la la la la with you
(Repeat Verse, refrain and chorus)
Note: instead of ending “La la la etc.” with F#m, E, etc., you end with A2 and then move
to the bridge.
Bridge:
F#m E
Dekireba kanashii
Dm A2
Omoi nante shitaku nai
F#m E Dsus2 A2
Demo yattekuru deshou, oh
F#m E
Sono toki egao de
Dm A2 F#m E Dsus2
“Yeah, Hello My Friends” nante sa Ieta nara ii noni
Chorus:
Dsus2 E
Onaji uta wo
F#m A2
Kuchizusamu toki
Dsus2 E F#m F#/Gb
Soba ni ite I Wish
Dsus2 E
Kakko yokunai
F#m A2 Bm Bm C#m Dm
Yasashisa ni aeta yokatta yo
A2 E Dsus2 <-Repeat 4 times and end with Dsus2
La la la la good-bye days
Dakara ima ai ni yuku
E F#m E
So kimetanda
A2 E Bm D A2
Poketto no kono kyoku wo
E F#m D
kimi ni kikasetai
Refrain:
Bm C#m
Sotto boryu-mu wo agete
Dsus2 G E F#m
Tashikamete mitayo
Chorus:
Dsus2
Oh Good-bye Days
E F#m A2
Ima, kawaru ki ga suru
Dsus2 E F#m F#/Gb
Kinou made ni So Long
Dsus2 E
Kakko yoku nai
F#m A2 Bm Bm C#m Dm
Yasashisa ga soba ni aru kara
F#m E Dsus2 A2 F#m E Dsus2
La la la la la with you
(Repeat Verse, refrain and chorus)
Note: instead of ending “La la la etc.” with F#m, E, etc., you end with A2 and then move
to the bridge.
Bridge:
F#m E
Dekireba kanashii
Dm A2
Omoi nante shitaku nai
F#m E Dsus2 A2
Demo yattekuru deshou, oh
F#m E
Sono toki egao de
Dm A2 F#m E Dsus2
“Yeah, Hello My Friends” nante sa Ieta nara ii noni
Chorus:
Dsus2 E
Onaji uta wo
F#m A2
Kuchizusamu toki
Dsus2 E F#m F#/Gb
Soba ni ite I Wish
Dsus2 E
Kakko yokunai
F#m A2 Bm Bm C#m Dm
Yasashisa ni aeta yokatta yo
A2 E Dsus2 <-Repeat 4 times and end with Dsus2
La la la la good-bye days
Selasa, 06 September 2011
KINCIR ANGIN
Masalah : Bagaimana Membuat Model Kincir Angin
Alat dan Bahan yang Digunakan
:: Gunting :: Pelobang kertas :: Penggaris :: Sedotan minuman :: Kertas hvs :: Tanah liat :: Pensil :: Benang jahit :: Koin logam besar :: Penjepit kertas ::
Prosedur
1.
Potong kertas segiempat ukuran 15cm x 15 cm.
2.
Gambar garis diagonal menyilang kertas segiempat membentuk huruf X.
3.
Gunakan koin untuk menggambar lingkaran di tengah kertas segiempat.
4.
Dengan pelobang kertas, buatlah satu lobang pada tiap-tiap sudut kertas seperti yang ditunjukkan pada gambar.
5.
Buatlah lubang melalui tengah lingkaran dengan ujung pensil.
6.
Potong empat garis diagonal sampai pinggir lingkaran di tengah kertas.
7.
Untuk membuat kertas berputar, lipat sudut-sudut kertas dengan menyatukankertas.
8.
Masukkan sedotan melalui lobang tersebut, dan tempatkan roda kertas di tengah sedotan.
9.
Sumbatkan sepotong kecil tanah liat ke kedua ujung sedotan menahan rodaagar tetap pada tempatnya.
10.
Potong benang jahit sepanjang 60 cm.
11.
Ikat ujung benang kira-kira 5 cm dari ujung sedotan.
12.
Ikat ujung yang bebas dari benang ke penjepit kertas.
13.
Pegang sedotan dengan tangan kirimumu dan menghadap ke muka kamu, dengan ibu jari menghadap tubuhmu.
14.
Ayunkan ujung sedotan pada alur yang terbentuk antara telunjuk dan ibu jari kamu. Jangan jepit sedotan tersebut.
15.
Hembus kincir angin kertas tersebut.
16.
Amati gerakan roda kertas, sedotan, dan penjepit kertas.
Hasil
Roda kertas dan sedotan berputar. Benang yang tertempel pada sedotan berputar melilit sedotan, dan sehingga penjepit kertas bergerak naik.
Mengapa?
Mesin merupakan alat yang membuat kerja menjadi lebih mudah. Roda kertas dan sedotan membentuk mesin sederhana yang disebut roda dan roda as (roda besar tempat roda kecil melekat). Benang dan penjepit kertas yang dihubungkan menghasilkan model yang memperagakan cara kerja kincir angin. Layar kertas dari model kincir angin bergerak seperti roda dan berputar dalam lingkar yang besar, sedotan merupakan as roda dan berputar bersama, tetapi roda membuat siklus yang lebih besar daripada roda as. Ketika roda membuat satu putaran besar, benang berputar sekali mengitari as, beban (penjepit kertas) naik dan jarak perpindahannya sebanding jarak putaran as. Hal ini membutuhkan sedikit gaya untuk menaikkan beban (penjepit kertas) dengan memutar roda besar daripada menaikkan beban langsung dengan tangan kamu. (Sebuah beban merupakan obyek yang digerakkan oleh mesin).
Mari Amati !
1.
Apakah ukuran roda mempengaruhi hasilnya? Ulangi eksperimen dua kali, tiap kali eksperimen, ubah ukuran roda kertas. Pertama buatlah roda dengan menggunakan kertas ukuran 7,5 cm x 7,5 cm, dan kemudian yang kedua gunakan kertas segiempat dengan ukuran 30 cm x 30 cm.
2.
Apakah ukuran as yang berbeda mempengaruhi hasil? Ulangi percobaan awal, gunakan jarum rajut untuk as yang lebih kecil. Ulangi lagi, gunakan paku dinding dengan keliling yang lebih besar daripada sedotan.
Saatnya Beraksi !
Buatlah model kincir air, yang merupakan contoh lain mesin roda dan roda as. Minta orang dewasa untuk memotong bagian atas botol plastik ukuran 2 liter, dan potong dua lekukan dengan lebar masing-masing 1,3 cm dan tinggi 5 cm di bagian pinggir sebelah atas botol plastik yang arahnya berseberangan satu sama lain. Potong lobang pada bagian samping, hampir mendekati dasar botol, untuk membuat air mengalir ke luar (lihat gambar). Buatlah sebuah kincir air dengan mengelem serangkaian kertas yang dipotong dari kartu nama dilem ke dinding kumparan benang kosong. Masukkan pensil melalui tengah kumparan benang. Rekatkan pensil ke kumparan benang dengan isolasi. Gantungkan kedua ujung pensil di bagian yang terpotong pada bagian atas botol. Ikat ujung benang ke penjepit kertas, dan rekatkan ujung benang yang bebas ke pensil. Tempatkan botol dalam bak cuci piring di bawah kran. Putar sedikit air. Air tersebut harus mengenai kertas. Kumparan dan pensil akan berputar dan benang akan berputar mengelilingi pensil, menaikkan penjepit kertas. Tampilkan model kincir air sebagai bagian tampilan eksperimen kamu, berdampingan dengan foto-foto yang diambil selama eksperimen.
Amati Ini !
Kincir angin pertama dibuat di Persia pada abad ke tujuh. Kincir ini merupakan contoh klasik dari mesin roda dan roda as yang bergantung pada angin sebagai sumber tenaganya, agar layarnya bisa berputar sehingga harus selalu dibuat menghadap angin. Temukan lebih banyak lagi tentang rancangan kincir angin dan bagaimana cara merancang agar dapat mengatasi kecepatan angin yang berbeda-beda. Masukan informasi mengenai kincir angin zaman dulu yang terdiri dari layar topang dan layar yang bisa dilepaskan, berdampingan dengan turbin angin modern yang digerakkan generator yang terdapat pompa dan gerinda.
Alat dan Bahan yang Digunakan
:: Gunting :: Pelobang kertas :: Penggaris :: Sedotan minuman :: Kertas hvs :: Tanah liat :: Pensil :: Benang jahit :: Koin logam besar :: Penjepit kertas ::
Prosedur
1.
Potong kertas segiempat ukuran 15cm x 15 cm.
2.
Gambar garis diagonal menyilang kertas segiempat membentuk huruf X.
3.
Gunakan koin untuk menggambar lingkaran di tengah kertas segiempat.
4.
Dengan pelobang kertas, buatlah satu lobang pada tiap-tiap sudut kertas seperti yang ditunjukkan pada gambar.
5.
Buatlah lubang melalui tengah lingkaran dengan ujung pensil.
6.
Potong empat garis diagonal sampai pinggir lingkaran di tengah kertas.
7.
Untuk membuat kertas berputar, lipat sudut-sudut kertas dengan menyatukankertas.
8.
Masukkan sedotan melalui lobang tersebut, dan tempatkan roda kertas di tengah sedotan.
9.
Sumbatkan sepotong kecil tanah liat ke kedua ujung sedotan menahan rodaagar tetap pada tempatnya.
10.
Potong benang jahit sepanjang 60 cm.
11.
Ikat ujung benang kira-kira 5 cm dari ujung sedotan.
12.
Ikat ujung yang bebas dari benang ke penjepit kertas.
13.
Pegang sedotan dengan tangan kirimumu dan menghadap ke muka kamu, dengan ibu jari menghadap tubuhmu.
14.
Ayunkan ujung sedotan pada alur yang terbentuk antara telunjuk dan ibu jari kamu. Jangan jepit sedotan tersebut.
15.
Hembus kincir angin kertas tersebut.
16.
Amati gerakan roda kertas, sedotan, dan penjepit kertas.
Hasil
Roda kertas dan sedotan berputar. Benang yang tertempel pada sedotan berputar melilit sedotan, dan sehingga penjepit kertas bergerak naik.
Mengapa?
Mesin merupakan alat yang membuat kerja menjadi lebih mudah. Roda kertas dan sedotan membentuk mesin sederhana yang disebut roda dan roda as (roda besar tempat roda kecil melekat). Benang dan penjepit kertas yang dihubungkan menghasilkan model yang memperagakan cara kerja kincir angin. Layar kertas dari model kincir angin bergerak seperti roda dan berputar dalam lingkar yang besar, sedotan merupakan as roda dan berputar bersama, tetapi roda membuat siklus yang lebih besar daripada roda as. Ketika roda membuat satu putaran besar, benang berputar sekali mengitari as, beban (penjepit kertas) naik dan jarak perpindahannya sebanding jarak putaran as. Hal ini membutuhkan sedikit gaya untuk menaikkan beban (penjepit kertas) dengan memutar roda besar daripada menaikkan beban langsung dengan tangan kamu. (Sebuah beban merupakan obyek yang digerakkan oleh mesin).
Mari Amati !
1.
Apakah ukuran roda mempengaruhi hasilnya? Ulangi eksperimen dua kali, tiap kali eksperimen, ubah ukuran roda kertas. Pertama buatlah roda dengan menggunakan kertas ukuran 7,5 cm x 7,5 cm, dan kemudian yang kedua gunakan kertas segiempat dengan ukuran 30 cm x 30 cm.
2.
Apakah ukuran as yang berbeda mempengaruhi hasil? Ulangi percobaan awal, gunakan jarum rajut untuk as yang lebih kecil. Ulangi lagi, gunakan paku dinding dengan keliling yang lebih besar daripada sedotan.
Saatnya Beraksi !
Buatlah model kincir air, yang merupakan contoh lain mesin roda dan roda as. Minta orang dewasa untuk memotong bagian atas botol plastik ukuran 2 liter, dan potong dua lekukan dengan lebar masing-masing 1,3 cm dan tinggi 5 cm di bagian pinggir sebelah atas botol plastik yang arahnya berseberangan satu sama lain. Potong lobang pada bagian samping, hampir mendekati dasar botol, untuk membuat air mengalir ke luar (lihat gambar). Buatlah sebuah kincir air dengan mengelem serangkaian kertas yang dipotong dari kartu nama dilem ke dinding kumparan benang kosong. Masukkan pensil melalui tengah kumparan benang. Rekatkan pensil ke kumparan benang dengan isolasi. Gantungkan kedua ujung pensil di bagian yang terpotong pada bagian atas botol. Ikat ujung benang ke penjepit kertas, dan rekatkan ujung benang yang bebas ke pensil. Tempatkan botol dalam bak cuci piring di bawah kran. Putar sedikit air. Air tersebut harus mengenai kertas. Kumparan dan pensil akan berputar dan benang akan berputar mengelilingi pensil, menaikkan penjepit kertas. Tampilkan model kincir air sebagai bagian tampilan eksperimen kamu, berdampingan dengan foto-foto yang diambil selama eksperimen.
Amati Ini !
Kincir angin pertama dibuat di Persia pada abad ke tujuh. Kincir ini merupakan contoh klasik dari mesin roda dan roda as yang bergantung pada angin sebagai sumber tenaganya, agar layarnya bisa berputar sehingga harus selalu dibuat menghadap angin. Temukan lebih banyak lagi tentang rancangan kincir angin dan bagaimana cara merancang agar dapat mengatasi kecepatan angin yang berbeda-beda. Masukan informasi mengenai kincir angin zaman dulu yang terdiri dari layar topang dan layar yang bisa dilepaskan, berdampingan dengan turbin angin modern yang digerakkan generator yang terdapat pompa dan gerinda.
Minggu, 04 September 2011
PUISI : MANTRA
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh:
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
.
Contoh:
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
.
puisi : Memahami Puisi
Puisi
Puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.
Baris-baris pada prosa dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag, dll). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi terkadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi.
::wikipedia
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Soneta
Soneta adalah bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florance.
- Ciri-ciri Soneta :
a. Terdiri atas 14 baris
b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
h. Penambahan baris pada soneta disebut koda.
i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
- Fungsi Soneta
Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati.
Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti :
1. Pernyataan rindu pada tanah air
2. Pergerakan kemajuan kebudayaan
3. Ilham sukma
4. Perasaan keagamaan
Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain :
1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun.
Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun.
2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya.
3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.
- Persamaan Soneta dan Pantun
Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi atau kesimpulan.
- Perbedaan Soneta dan Pantun
a. Soneta puisi asli Italia, Pantun puisi asli Melayu
b. Satu bait Soneta terdiri terdiri dari 14 baris, satu bait Pantun terdiri atas 4 baris
c. Soneta berima bebas, pantun berima a-b-a-b
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Octav
Octav adalah sanjak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
.
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Septima
Septima adalah sanjak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Sextet
Sextet adalah sanjak 6 seuntai.
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Quint
Quint adalah sanjak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Quatrain
Quatrain adalah sanjak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Terzina
Terzina adalah sanjak 3 seuntai.
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Distikon
Distikon adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
Labels: Memahami Puisi
Pantun
Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
Ciri-ciri pantun :
1. Setiap bait terdiri 4 baris
2. Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
3. Baris 3 dan 4 merupakan isi
4. Bersajak a – b – a – b
5. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
6. Berasal dari Melayu (Indonesia)
Contoh :
Ada pepaya ada mentimun (a)
Ada mangga ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Mari kita membaca sajak (b)
.
Puisi Lama : [Mantra] [Gurindam] [Syair] [Pantun]
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Syair
Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.
Ciri-ciri syair :
a. Setiap bait terdiri dari 4 baris
b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
c. Bersajak a – a – a – a
d. Isi semua tidak ada sampiran
e. Berasal dari Arab
Contoh :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi subur (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)
Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan rupawan elok parasnya (a)
Adil dan jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)
.
Puisi Lama : [Mantra] [Gurindam] [Syair] [Pantun]
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Gurindam
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)
Ciri-ciri gurindam :
a. Sajak akhir berirama a – a ; b – b; c – c dst.
b. Berasal dari Tamil (India)
c. Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatui sebab akibat.
Contoh :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
.
Puisi Lama : [Mantra] [Gurindam] [Syair] [Pantun]
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Mantra
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh:
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
.
Puisi Lama : [Mantra] [Gurindam] [Syair] [Pantun]
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Puisi Baru
Macam-macam Puisi Baru
1. DISTIKON
2. TERZINA
3. QUATRAIN
4. QUINT
5. SEXTET
6. SEPTIMA
7. STANZA ( OCTAV )
8. SONETA
sumber: agepe lesson
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan.
Aturan- aturan itu antara lain :
1. Jumlah kata dalam 1 baris
2. Jumlah baris dalam 1 bait
3. Persajakan (rima)
4. Banyak suku kata tiap baris
5. Irama
Macam-macam Puisi Lama
1. MANTRA
2. GURINDAM
3. SYAIR
4. PANTUN
sumber : agepe lesson
Labels: Memahami Puisi
Poetry
Poetry is a form of literary art in which language is used for its aesthetic and evocative qualities in addition to, or in lieu of, its apparent meaning. Poetry may be written independently, as discrete poems, or may occur in conjunction with other arts, as in poetic drama, hymns or lyrics.
Poetry, and discussions of it, have a long history. Early attempts to define poetry, such as Aristotle's Poetics, focused on the uses of speech in rhetoric, drama, song and comedy.Later attempts concentrated on features such as repetition and rhyme, and emphasised the aesthetics which distinguish poetry from prose. From the mid-20th century, poetry has sometimes been more loosely defined as a fundamental creative act using language.
Poetry often uses particular forms and conventions to expand the literal meaning of the words, or to evoke emotional or sensual responses. Devices such as assonance, alliteration, onomatopoeia and rhythm are sometimes used to achieve musical or incantatory effects. Poetry's use of ambiguity, symbolism, irony and other stylistic elements of poetic diction often leaves a poem open to multiple interpretations. Similarly, metaphor and simile create a resonance between otherwise disparate images—a layering of meanings, forming connections previously not perceived. Kindred forms of resonance may exist, between individual verses, in their patterns of rhyme or rhythm.
Some forms of poetry are specific to particular cultures and genres, responding to the characteristics of the language in which the poet writes. While readers accustomed to identifying poetry with Dante, Goethe, Mickiewicz and Rumi may think of it as being written in rhyming lines and regular meter, there are traditions, such as those of Du Fu and Beowulf, that use other approaches to achieve rhythm and euphony. In today's globalized world, poets often borrow styles, techniques and forms from diverse cultures and languages.
http://en.wikipedia.org/wiki/Poetry
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Puisi Indonesia
Puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.
Baris-baris pada prosa dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag, dll). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi terkadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi.
::wikipedia
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.
Baris-baris pada prosa dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag, dll). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi terkadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi.
::wikipedia
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Soneta
Soneta adalah bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florance.
- Ciri-ciri Soneta :
a. Terdiri atas 14 baris
b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
h. Penambahan baris pada soneta disebut koda.
i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
- Fungsi Soneta
Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati.
Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti :
1. Pernyataan rindu pada tanah air
2. Pergerakan kemajuan kebudayaan
3. Ilham sukma
4. Perasaan keagamaan
Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain :
1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun.
Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun.
2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya.
3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.
- Persamaan Soneta dan Pantun
Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi atau kesimpulan.
- Perbedaan Soneta dan Pantun
a. Soneta puisi asli Italia, Pantun puisi asli Melayu
b. Satu bait Soneta terdiri terdiri dari 14 baris, satu bait Pantun terdiri atas 4 baris
c. Soneta berima bebas, pantun berima a-b-a-b
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Octav
Octav adalah sanjak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
.
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Septima
Septima adalah sanjak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Sextet
Sextet adalah sanjak 6 seuntai.
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Quint
Quint adalah sanjak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Quatrain
Quatrain adalah sanjak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Terzina
Terzina adalah sanjak 3 seuntai.
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Distikon
Distikon adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
Labels: Memahami Puisi
Pantun
Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
Ciri-ciri pantun :
1. Setiap bait terdiri 4 baris
2. Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
3. Baris 3 dan 4 merupakan isi
4. Bersajak a – b – a – b
5. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
6. Berasal dari Melayu (Indonesia)
Contoh :
Ada pepaya ada mentimun (a)
Ada mangga ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Mari kita membaca sajak (b)
.
Puisi Lama : [Mantra] [Gurindam] [Syair] [Pantun]
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Syair
Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.
Ciri-ciri syair :
a. Setiap bait terdiri dari 4 baris
b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
c. Bersajak a – a – a – a
d. Isi semua tidak ada sampiran
e. Berasal dari Arab
Contoh :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi subur (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)
Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan rupawan elok parasnya (a)
Adil dan jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)
.
Puisi Lama : [Mantra] [Gurindam] [Syair] [Pantun]
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Gurindam
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)
Ciri-ciri gurindam :
a. Sajak akhir berirama a – a ; b – b; c – c dst.
b. Berasal dari Tamil (India)
c. Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatui sebab akibat.
Contoh :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
.
Puisi Lama : [Mantra] [Gurindam] [Syair] [Pantun]
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Mantra
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh:
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
.
Puisi Lama : [Mantra] [Gurindam] [Syair] [Pantun]
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Puisi Baru
Macam-macam Puisi Baru
1. DISTIKON
2. TERZINA
3. QUATRAIN
4. QUINT
5. SEXTET
6. SEPTIMA
7. STANZA ( OCTAV )
8. SONETA
sumber: agepe lesson
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan.
Aturan- aturan itu antara lain :
1. Jumlah kata dalam 1 baris
2. Jumlah baris dalam 1 bait
3. Persajakan (rima)
4. Banyak suku kata tiap baris
5. Irama
Macam-macam Puisi Lama
1. MANTRA
2. GURINDAM
3. SYAIR
4. PANTUN
sumber : agepe lesson
Labels: Memahami Puisi
Poetry
Poetry is a form of literary art in which language is used for its aesthetic and evocative qualities in addition to, or in lieu of, its apparent meaning. Poetry may be written independently, as discrete poems, or may occur in conjunction with other arts, as in poetic drama, hymns or lyrics.
Poetry, and discussions of it, have a long history. Early attempts to define poetry, such as Aristotle's Poetics, focused on the uses of speech in rhetoric, drama, song and comedy.Later attempts concentrated on features such as repetition and rhyme, and emphasised the aesthetics which distinguish poetry from prose. From the mid-20th century, poetry has sometimes been more loosely defined as a fundamental creative act using language.
Poetry often uses particular forms and conventions to expand the literal meaning of the words, or to evoke emotional or sensual responses. Devices such as assonance, alliteration, onomatopoeia and rhythm are sometimes used to achieve musical or incantatory effects. Poetry's use of ambiguity, symbolism, irony and other stylistic elements of poetic diction often leaves a poem open to multiple interpretations. Similarly, metaphor and simile create a resonance between otherwise disparate images—a layering of meanings, forming connections previously not perceived. Kindred forms of resonance may exist, between individual verses, in their patterns of rhyme or rhythm.
Some forms of poetry are specific to particular cultures and genres, responding to the characteristics of the language in which the poet writes. While readers accustomed to identifying poetry with Dante, Goethe, Mickiewicz and Rumi may think of it as being written in rhyming lines and regular meter, there are traditions, such as those of Du Fu and Beowulf, that use other approaches to achieve rhythm and euphony. In today's globalized world, poets often borrow styles, techniques and forms from diverse cultures and languages.
http://en.wikipedia.org/wiki/Poetry
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Puisi Indonesia
Puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.
Baris-baris pada prosa dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag, dll). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi terkadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi.
::wikipedia
Read more...
Labels: Memahami Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)